“Batitong” Siluman Bercahaya Dari Toraja

 

“Torroko-torroko nakande ko batitong” adalah ungkapan yang sering orang Toraja lontarkan kepada teman atau anak kecil yang jalannya lambat saat jalan bareng. Ungkapan ini jika diartikan” jangan jalan lambat,nanti dimakan batitong”.Nah, batitong itu apa?

Batitong adalah sejenis manusia jadi-jadian atau siluman dari Toraja,konon adanya Batitong ini   akibat dari seseorang yang mencari ilmu hitam atau yang lasim di Toraja dikatakan Mattareka’(orang yang berguru kepada orang yang dianggap sakti untuk mencapai sesuatu yang diinginkan misalnya i ngin cepat kaya,ingin kebal dari benda-benda tajam dll).

Menurut cerita orang-orang tua di kampung seseorang menjadi batitong jika orang itu dalam proses mencari ilmu hitam (mattareka’’) ada suatu kesalahan yang dilakukan entah itu karena gagal memenuhi persyaratan yang tidak diminta,atau melanggar janji dll. Ada juga yang mengatakan akibat “mattareka’ salah” yang artinya orang yang mencari ilmu hitam,namun lain dari yang dia inginkan tapi lain juga yang diberikan oleh orang dimana ia berguru.

Konon, orang batitongan menampakkan ciri-ciri seperti mata sayu dan berair,gigi kuning,penampilan mereka selalu terlihat jorok atau kumuh dll. Batitong ini biasanya beraksi pada sore menjelang magrib hingga subuh dini hari, Dalam aksinya kebanyakan Batitong akan memangsa hewan ternak warga sepeti ayam,babi,kerbau dll,namun ada pula yang memangsa manusia khususnya wanita yang sedang hamil,orang yang sekarat,atau bayi yang baru lahir,
Batitong sangat anti dengan daun-daun seperti don pallan(daun jarak”,garam, dan bangle sehingga biasanya dikampung jika ada seorang wanita yang sedang hamil atau baru melahirkan maka dirumahnya atau dalam kamarnya akan dipasangi dengan don pallan(daun jarak),garam,dan untuk bayi atau anak-anak biasanya dibajunya akan dipasangkan bangle dengan menggunakan peniti.

Batitong sangat menyukai tempat-tempat yang jorok dan berair seperti tempat pembuangan air cucian piring,selokan,sungai,sawah dan tempat-tempat yang beraroma tidak sedap seperti bau kencing,bau darah busuk dll,dahulu di tempat dimana acara Rambu solo’ atau upacara pemakaman setelah habis potong hewan dan penguburan maka pada malam atau subuh hari saat sepih disitu akan banyak batitong yang datang meminum atau makan sisah darah kotor dan bangkai dari hewan kurban.

Jika hewan ternak atau manusia mati mendadak,biasanya orang Toraja akan mengira-ngira dan mengaitkannya dengan korban mangsa batitong dengan melihat ciri-ciri seperti isi perut dari hewan itu hilang terutama bagian hati serta kulit lebam,dan pada manusia dengan ciri kulitdi sekitar area hati sangat lebam dan hitam.

Batitong sangat mudah dikenali pada malam hari karena akan menampakkan ciri seperti lampu yang becahaya di atas dahinya dan bergerak gesit dan cepat, orang yang melihat batitong biasanya bercerita jika batitong itu bergerak sangat cepat dalam hitungan detik,biasanya nampak dengan dekat dengan orang yang melihatnya namun dalam hitungan detik bisa berpindah dalam sekejap dan telihat menjauh.Dari orang-orang yang melihat batitong kebanyakan dari mereka bercerita tentang keberadaan batitong yang berkumpul di pematang sawah terutama pada malam hari saat hujan dan melompat lompat untuk mencari katak dan kotoran anjing atau kerbau.

Banyak dari orang batitongan tidak menyadari kalau dia memiliki roh batitong,namun ada juga yang menyadari kalau dirinya batitongan.Menurut cerita dari orang-tua yang pernah mendengar langsung kisah dari orang yang pernah batitongan dan sudah sembuh katanya jika orang batitongan melihat kotoran akan terlihat seperti makanan lezat seperti sokko’ pulu’ lotong(nasi ketan hitam).

Ada banyak cara untuk mengusir batitong,jika seseorang berhadapan langsung dengan batitong,jika orang itu cukup kuat maka ia bisa melawannya karena sejatinya batitong adalah manusia namun karena ilmu hitam sehingga batitong aga lebih kuat dari manusia normal,itulah sebabnya kebanyakan batitong maencari mangsa yang lemah seperti perempuan yang sedang hamil,orang sakit dll. Namun jika tidak cukup kuat kita bisa melawannya dengan sekali pukul dengan menggunakan daun jarak atau sapu lidi,dan jangan sekali kali memukulnya dua kali,saat dipukul sekali maka orang yang batitongan itu akan merengek dan meminta kembali untuk dipukul,sehingga kalau kita memukulnya kembali maka kekuatan batitong itu akan bangkit dan balik memangsa. Cara lain juga untuk mengusir batitong yaitu dengan menaburinya dengan garam,katanya batitong sangat takut dengan garam,jika orang melihat batitong dan menaburinya dengan garam maka batitong itu akan segera lari dan menjauh,itulah sebabnya di toraja biasanya mengantongi butiran garam jika bepergian malam dan melewati area yang dianggap mistis atau horor untuk menghalau gangguan batitong dan bahkan roh-roh jahat lainnya.

Menurut cerita lagi, salah satu cara orang mengetahui orang itu batitongan dengan cara jika ada seseorang yang batitongan datang menganggu ke rumah pada malam hari maka yang punya rumah akan mengambil osing(arang) dan membuat tanda palang silang di pintu sambil berkata dari dalam rumah” Sulemoko,masiangpi melambi” murampo” artinya pulanglah,besok pagi baru datang, besok paginya jika ada orang yang datang dengan tanda silang di dahinya maka orang itulah yang batitongnya datang saat malam hari,

Sampai sekarang cerita tentang siluman atau manusia jadi-jadian batitong masih kerap terdengar di kampung kampung di Toraja. Bukan hanya batitong tapi masih banyak lagi jenis-jenis hantu atau siluman versi Toraja yang menarik untuk diketahui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: