Sabtu, 10 September 2016

Sejarah Singkat Tana Toraja

Sejarah Toraja adalah sejarah tidak tertulis tetapi sejarah yang diceritakan dari mulut ke mulut  yang biasanya dihubungkan dengan salah satu peristiwa besar pada saat itu.

Zaman Purba Toraja
Diperkirakan kelompok pertama yang merupakan nenek moyang  orang Toraja datang dari arah selatan yang diperkirakan membawa peradaban Neo-Megalitik. Mereka datang dlam kelompok-kelompok yang disebut Arroan dan dipimpin oleh Ambe' Arroan sekitar 3000 tahunyang lalu(ambe'=bapak, arroan=kelompok).

Sejarah Singkat Tana Toraja

Kelompok Arroan ini terpencar-pencar tetapi kemudian membentuk kelompok yang lebih besar dipimpin oleh Pong Pararrak(pong=utama, Pararrak=penjelajah).
Gelombang kedua yang masuk ke Toraja dengan menggunakan perahu yang disebut lembang dipimpin oleh ampu lembang(ampuh=yang empunya, lembang=perahu). Perkampungan pertama mereka adalah  di daerah Bamba Puang atau Bambana  di Rura.

Mereka datang sebanyak kurang lebih 40 arroan. Ampu lembang membangun rumah berbentuk Perahu yang selalu menghadap ke utara untuk mengenang arah darimana mereka datang pada mulanya. mereka datang dengan pengikutnya dan telah mempunyai tata masyarakat dan pemerintahan sendiri.

Ampu lembang tidak lagi tinggal dlam rumahnya tetapi mulai terpencar-pencar menguasai daerah tertentu dan menamakan dirinya Puang(yang empunya) di tempat yang telah dikuasainya. Lama kelamaan terjadi persaingan antara Puang-puang dan ada di antaranya yang bergabung dengan Siambe' Arroan dan Pong Pararrak dan membentuk persakutuan yang lebih besar dan kuat dinamai Bongga.

Zaman Londong di Rura
Seorang penguasa Bongga di  sekitar Bamba Puang mengadakan perombakan besar dan dikenal sebagai seorang yang keras, lalim, kejam dan melanggar sukaran aluk antara lain membolehkan anak-anak kandungnya menikah satu sama lain, namanya adalah Puang Londong di Rura yang dikutuk Oleh Puang Matua Atas perbuatannya yang melanggar sukaran aluk. cerita atau mitos ini dikenal dengan cerita Runtuhnya Eran di Langi'. BACA Runtunya Eran di Langi'.

Masa Kekuasaan Tangdilino To Banua Puan
Tangdilino', Ponda Padang dan Pasontik, tiga tokoh penting pembawa Aluk Sanda Pitunna yang mengikat seluruh tondok lepongan bulan tana matari' allo pada abad ke -10 , yang kemudian disebut aluk todolo yang berkembang menjadi cikal bakal"Parandangan ada".

Tangdilino adalah putra dari salah satu penguasa 40 arroan yaitu Pande I Olang. Ia mendirikan rumah atau tongkonan di Sarimbano Marinding di mengkendek yang disebut Banua Puan(tongkonan pertama orang Toraja). Tangdilino Adalah pembawa aluk sanda pitunna"777" Aluk Mellao Langi' sangka' turun di Batara yaitu tatanan aturan untuk dilaksanakan dan tidak boleh dilanggar yang mengatur kehidupan suku Toraja.

Tangdilono menata kembali aluk sanda pitunna dan menciptakan aturan dan cara-cara pemerintahan baru dengan bantuan seorang ahli sukaran aluk bernama Pong Suloara' dari Sesean. Pong Suloara' digente' to untindok sesanna mangsan, to unnala rakdakna malabu (Pong Suloara' dinamai penyelamat dengan mengambil hal-hal yang baik dari aturan yang sudah hancur dan menyusun aturan penyelamatan masyarakat akibat kelalaian Puang Londong Di Rura.

Tangdilino kawin dengan Buean Manik(puteri Puang Ri Tabang) dan melahirkan 8 orang anak dari isteri pertama dan 1 dari isteri kedua. Ke-9 Putra Tangdilino inilah yang menyebarkan aluk sanda pitunna ke seluruh wilayah Toraja dengan pusat kekuasaannya dari banua Puan Marinding.

Ke-9 anak Tangdilino yang disebar dan ditugaskan melebarkan kekuasaan Tangdilino di seluruh wilayah Toraja yaitu:
1. Tele Bue ke daerah Duri
2. Kila' ke daerah Bua Kayu
3. Bobong Langi' ke daerah mamasa
4. Parengnge' ke daerah Buntao'
5. Pata'ba ke daerah Pantilang
6. Lanna ke daerah Sangalla'
7. Sirrang ke daerah Dangle' Makale
8. Patabang tinggal di Marinding
9. Pabane ke daerah Kesu'.

Putra tertua Tangdilino' yang menikah dengan Putri Puang Ri Kesu' adalah pelopor penyebaran aluk sanda pitunna di daerah utara dan berpusat di tongkonan Kesu' dan dikenal sebagai Panta'nakan lolona aluk sola pemali anna sangka' disituran-turananni.

Tangdilino berhasil mempersatukan 40 Arroan( 40 kekuasaan adat di masing-masing daerah kediaman suku Toraja). dan mendirikan satu kesatuan yang disebut To Misa' Lan Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo dengan lambang Barre' Allo(matahari terbit)

Zaman Datangnya To Manurun Di Toraja
Kurang lebih Abad ke-13 datang pula gelombang penguasa-penguasa baru yang dalam sejarah Toraja disebut To Manurun(To=orang,  manurun =turun dari langit, turunan dewa).

Tomanurun yang terkenal dalam sejarah Toraja adalah:
1. To Manurun, Manurun di Langi' kesu'
2. To Manurun, Tamboro Langi' di Kandora
3. To Manurun, Mambio Langi' di Kaero.

Ketiga tomanurun tersebut datang di daerah kapuangan dan diberi gelar Puang, karena masyarakat menganggap mereka itu turunan dari Dewa Kayangan maka diberi gelar Puang To Matasak dan disanjung dalam puisi :
"To mamma' balian to ma' tindo bai tora, to tang urrangngi arrak tang umpedailling gamara, todikulambu mawa'to di rinding doti langi', to mamma' dao pue-pue rara' to ma' tindo dao palangka bulayan, to tangditimba mata bubunna tangdisiok tondon turunanna, tangdiola boko'na tangdilomban tingayona tangnalabi' peruso kalando...dst'.

Menurut mitos yang diceritakan lewat Passomba Tedong bahwa, To manurun adalh orang yang datang dari kayangan untuk menyempurnkan aluk, adat dan budaya di bumi. sebagai contoh Puang Tamboro Langi' yang di utus oleh Yang Maha Kuasa dan membawa aluk sanda saratu' untuk menyempurnakan aluk yang diturunkan sebelumnya. Demikian juga Puang Ri Kesu' tetap melaksanakan aluk sanda pitunna, sehingga pusat penyebaran aluk sanda pitunna, berpindah dari Banua Puan Marinding ke Tongkonan Kesu'.

Masa To Manurun Puang Tamboro Langi'
Puang Tamboro Langi' menurut Passomba tedong turun dari  Kayangan membawa aluk sanda saratu'. To mellao langi', To losson ri Batara sola aluk sanda saratu' dao buntu Kandora, to ma; banua di toke' to ma' tondok dianginni. Wilayah penyebaran aluk sanda saratu' adalah di bagian selatan Toraja sampai ke Massenreng Pulu'( Enrekang).

Daerah ini disebut tondok Kapuangan padang kabusungan"Tallu Lembangna" dan Tallu Batupapan. Puang Tamboro Langi' kawin dengan Puang Sanda Bilik, putri dari Puang Ullin Sapan Deata dan melahirkan * orang anak yakni 4 orang putri dan 4 orang putra.

Keempat orang putri mendiami daerah adat kama'dikaan dan keempat orang putra mendiami daerah adat kapuangan.

Tetapi menurut versi Tallu Lembangna keempat putrinya kembali ke alam gaib dan hanya tinggal 4 putra yakni :
1. Puang Papai Langi' ke Buntu Gassing Mengkendek
2. Puang To Mambuli Buntu ke Napo(Rinding Allo) dan Nonongan.
3. Puang Sanda Boro ke Batu Rorrong di Sinaji(gunung Latimojong) yang adalah orang tua Lakipadada.
4. Puang Meso' ke Rano Makale(mendirikan kerajaan Matampu') atau penerus tahta kerajaan Puang Tmaboro Langi'.

Demikianlah ulasan singkat tentang sejarah tana toraja, semoga bermamfaat

(sumber artikel dari buku  Sejarah Tentang Aluk, Adat dan Budaya Tallu Lembangna Di Toraja)

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.