Minggu, 17 Juli 2016

Larangan-Larangan Atau Pantangan dalam Perkawinan Adat Suku Toraja

Setiap daerah atau wilayah di indonesia bahkan di dunia memiliki larangan atau pantangan yang menyangkut dengan perkawinan. demikian halnya juga dengan suku toraja memiliki larangan atau pantangan dalam perkawinan.

Adapun larangan atau pantangan yang bersangkut paut dengan adat-istiadat perkawinan suku toraja, dalam bahasa toraja disebut "palinan rampanan kapaq", meliputi hubungan seksual berikut ini:
  • Hubungan seksual diluar pernikahan, baik antara orang yang belum menikah, maupun orang yang sudah menikah, dalam bahasa toraja disebut "maqpangganan Buni" (secara harafiah berarti makan sirih secara diam diam).
  • Hubungan seksual antara orang tua dengan anak kandung, antara kakek atau nenek dengan cucu, dalam bahasa toraja disebut " toussussuq talloqna" (secara harafiah berarti orang yang menghisap telurnya sendiri).
  • Pernikahan atau hubungan seksual antara saudara kandung, dalam bahasa Toraja disebut "umpasitambenan tomisaq dikombong (secara harafiah berartikan mengawinkan orang yang diciptakan dalam satu kandungan)
  • Seorang pria yang mengawini atau mengadakan hubungan seksual dengan seorang wanita yang lebih tinggi strata sosialnya, dalam bahasa toraja disebut " ullutu tombang bubun bulaan, ussenggong balatana panambu dirangkang raraq" (secara harafiah berarti orang yang membuat sumur emas menjadi keruh seperti kubangan kerbau).

Larangan-Larangan Atau Pantangan dalam Perkawinan Adat Suku Toraja

Pelaku semua bentuk hubungan seksual tersebut diatas ini akan dihukum berat yakni dibakar hidup-hidup dalam api, atau ditenggelamkan dalam palung sungai yang dalam, atau sekurang kurangnya diusur dari dalam desanya, tatkala "adaq mate" masih berlaku di daerah ini. Pada waktu "adaq tuo" sudah diperlakukan, maka mereka itu harus mengadakan upacara "mangrambu langiq" (secara harafiah berarti mengasapi langit), maksudnya membuat kurban mohon ampun pada Puang Matua Sang

Pencipta dengan menbakar hangus kerbau atau babi penganti dirinya. Kerbau bagi mereka yang berstrata sosial "Tanaq Bulaan(keturunan bangsawan)" dan "Tanaq Bassi(keturunan pimpinan adat bawahan)", Babi bagi mereka yang berstrata sosial "tanaq karurung(keturunan orang biasa)" atau "Tanaq Kua-Kua(abdi/hamba)"

pengertian "bersaudara kandung" mencakup sampai bersaudara bersepupu tiga kali. orang yang bersepupu tiga kali hanya dapat dengan persetujuan khusus (dispensasi), Keluarga yang disebut dalam bahasa toraja "dipasule langgan banua". (secarah harafiah berarti dikembalikan diatas rumah maksudnya membaharui hubungan kekerabatan). Itupun  harus melaksanakan upacara perkawinan adat yang disebut " diindoq parando dikapuq, digarontoq tumballan dianggilo"(melaksanakan perkawinan adat yang dilandaskan pada persembahan Tuhan, Kepada Dewa, dan Kepada Leluhur yang diletakkan diatas mesbah berhias, untuk memohon izin dan berkat-Nya.

Demikianlah larangan atau pantangan-pantangan dalam perkawinan Adat  suku toraja, semoga bermamfaat.

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.