Kamis, 14 Juli 2016

Biografi Tana Toraja

Kabupaten Tana Toraja


Kabupaten Tana Toraja adalah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, dengan bupati bernama Ir. Nico Biringkanae, Ibokota kabupaten ini adalah makale. Sebelum pemekaran, kabupaten ini memiliki luas wilayah 3.203km dan berpenduduk sebanyak 221.081 jiwa, data ini terkumpul pada (2010).

Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya nias. Daerah ini merupakan salah satu objek wisata di Sulawesi Selatan.

Biografi Tana Toraja

Berdasarkan Undang-Undang Nomer 28 Tahun 2008, bagian utara wilayah kabupaten ini dimekarkan menjadi kabupaten Toraja Utara dengan ibukota Rantepao dan bupati nya Kala'tiku Paembonan.

Ekonomi


Kebanyakan masyarakat Toraja hidup sebagai petani, komoditi andalan dari daerah Toraja adalah sayur-sayuran, kopi, cengkeh, cokelat dan vanili.
Perekonomian di Tana Toraja digerakan oleh 6 pasar tradisional dengan sistem perputaran setiap 6 hari.
Keenam pasar yang ada ialah:

  • 1. Pasar Makale
  • 2. Pasar Rantepao
  • 3. Pasar Ge'tengan
  • 4. Pasar Sangalla'
  • 5. Pasar Rembon
  • 6. Pasar Salubarani.


Objek Wisata


Tana Toraja Merupakan salah satu daya tarik wisata indonesia, dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias.

Daerah-Daerah ini merupakan salah satu objek wisata di Sulawesi Selatan

Buntu Kalando


Tongkonan/rumah tempat puang Sangalla' (Raja Sangalla') berdiam, sebagai tempat peristirahatan Puang Sangalla' dan juga merupakan istana tempat mengelola pemerintahan kerajaan Sangalla' pada waktu itu, Tongkonan Buntu Kalando bergelar "Tando tananan langi' lantangna Kaero tongkonan layuk". Saat ini Tongkonan Buntu Kalando dijadikan Museum tempat menyimpan benda-benda bersejarah dan peninggalan kerajaan Sangalla'.

Pallawa


Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat, Pallawa terletak sekitar 12 km ke arah utara Rantepao.

Londa


Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja, salah satunya terletak ditempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam, dimana peti-peti mayat di atur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainnya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau, Londa terletak 5 km ke arah selatan dari Rantepao.

Kete Kesu


Objek wisata yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau di dalam bangunan batu yang di beri pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Kte Kesu terlletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepao.

Batu Tumonga


Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar 2-3 meter. Dari tempat ini anda dapat melihat keindahan Rantepao dan lembah di sekitarnya. Batu Tumonga terletak di daerah sesean dengan ketinggian 1300 meter dari permukaan laut.

Lemo


Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah, di permukaan Lemo kita dapat melihat mayat yang disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan di ganti dengan melalui upacara Ma'Nene.

Usaha Konservasi


Tana Toraja adalah salah satu tempat konservasi peradaban budaya PROTO MELAYU AUSTRONESIA yang masih terawat hingga kini. Kebudayaan adat istiadat, seni musik, seni tari, seni sastra lisan, bahasa, rumah, ukiran, tenunan dan kuliner yang masih sangat tradisional, membuat pemerintah indonesia mengupayakan agar Tana Toraja bisa dikenal di dunia internasional, salah satunya adalah mencalonkan Tana Toraja ke UNESCO untuk menjadi situs warisan dari UNESCO sejak tahun 2009.

Hal ini didukung oleh jepang untuk menjadikan Tana Toraja sebagai situs warisan dunia UNESCO, jepang sendiri akan ikut dalam upaya konservasi tersebut, khususnya terkait dengan rumah adat di daerah ini.

Dukungan ini disampaikan dalam pertemuan antara delegasi indonesia dan jepang di Poznan, Polandia, Sabtu (11/9/2010), Pertemuan di lakukan setelah usainya pertemuan para menteri kebudayaan asia dan eropa yang keempat pada 9 dan 10 september di Ponzan yang dihadiri oleh perwakilan dari sekitar 40 negara di asia dan eropa.

Itulah Biografi singkat tentang Tana Toraja.

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

1 comments:

Tulis comments
avatar
21 Juli 2016 00.53

Salam kenal masbrooo, saya emang suka dengan toraja dan segala budaya nya, jangan lupa mampir di blogku ya, makasih

Reply