Jumat, 29 Desember 2017

Luar Biasa, Toraja Utara Pecahkan Dua Rekor MURI Dalam Event Lovely December 2017 DI Toraja Utara

Lovely December 2017 adalah merupakan event tahunan di Kabupaten Tana Toraja Dan Toraja Utara, event Lovely December 2017 Kali ini merupakan event yang ke 10 kali diadakan, di mana yang bertindak sebagai tuan rumah adalah kab . Toraja Utara, event tahun lalu berlangsung di kab. Tana Toraja.

Dalam even kali ini tercipta dua rekor MURI yakni menara bambu replika pohon natal setinggi 45 meter dan rekor mencicipi kopi terbanyak yakni 2500 peserta.

Toraja Utara Pecahkan Dua   Rekor MURI  Dalam Event Lovely December 2017 DI Toraja Utara

Pemecahan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) yakni menara bambu replika pohon natal resmi diumumkan setelah selesai ibadah natal oikumene di lapangan bakti rantepao. Ini ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh gubernur Syahrul Yasin Limpo, Bupati Tana Toraja Ir. Nikodemus Biringkanae, dan Bupati Toraja Utara Kala’ Tiku Paembonan serta kepala dines Kehutanan propinsi Sulawesi selatan diiringi dengan penyalaan lampu-lampu yang menghiasi menara dan pesta kembang api.

Pemberian piagam penghargaan diberikan langsung oleh manager senior MURI Yusuf Ngadri kepada Bapak Gubernur Syahrul Yasin Limpo. Pembuatan pohon natal dari bambu ini kerjasama dengan Dinas Kehutan Provinsi Sulawesi selatan dengan Pemerintah Kabupaten Toraja utara sebagai penyelenggara event lovely december.

Rekor MURI yang kedua, mencicipi kopi dengan peserta terbanyak yakni 2500 peserta, resmi diumumkan sesaat setelah penyelenggaraan festival kontes kerbau, tempat mencicipi kopi ini tersedia di empat tempat di masing-masing sudut lapangan Bakti Rantepao, dimana kopi ini berasal dari kecamatan-kecamatan yang ada di rantepao yang memiliki kwalitas kopi terbaik di Toraja Utara yakni Sa’dan,Sesean Suloara, Kapala Pitu, awan rante karua, buntu pepasan, Rantebua dan Bangkele kila’.
Dalam pemecahan rekor MURI ini, Kepala Dinas Pertanian Toraja Utara, Daud Pongsapan berharap semoga para petani kopi di toraja ini lebih semangat dalam mengelolah pertanian kopi mereka untuk lebih menghasilkan kwalitas kopi terbaik, sehingga semakin dikenal luas dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat toraja Utara. Dalam event festival kopi ini diadakan juga lomba rasa kopi terbaik dari 7 kecamatan dimana yang keluar sebagai pemenang adalah kecamatan awan

Jumat, 20 Oktober 2017

Rumah Tongkonan Toraja Beratap Batu Dengan Berat 10 Ton

Tongkonan adalah sebutan untuk rumah adat toraja, yang mempunyai fungsi sebagai tempat berkumpulnya rumpun keluarga besar,sebagai tempat melangsungkan acara-acara adat baik rambu tuka' maupun rambu solo'. Rumah tongkonan berbentuk perahu dan atapnya terbuat dari bambu, namun saat ini rumah tongkonan kebanyakan sudah tidak menggunakan atap bambu lagi namun diganti dengan atap seng, dengan alasan praktis dan pengerjaannya cepat dibanding dengan atap bambu yang proses pemasangan membutuhkan waktu yang panjang dan rumit.

Rumah Tongkonan Toraja Beratap Batu  Dengan Berat  10 Ton

Selain menggunakan atap bambu dan seng, ternyata ada sebuah rumah tongkonan di toraja yang atapnya terbuat dari batu dan beratnya diperkirakan mencapai 10 ton,luar biasa ya?. Rumah tongkonan ini terletak di Desa Banga' Kecamatan Rembon Kabupaten Tana Toraja. Masyarakat  menyebut tongkonan ini dengan tongkonan "papa batu" yang artinya tongkonan yang atapnya terbuat dari batu. menurut informasi Tongkonan ini diperkirakan sudah berumur kurang lebih 700 tahun.

Pendiri  dan sekaligus penghuni tongkonan ini yang pertama kalinya disebut Nenek Buntu Datu, dan sekarang Tongkonan ini dihuni oeh salasatu keluarga dari rumpun pemilik tongkonan ini yaitu seorang nenek yang bernama Nenek Toyang yang merupakan Turunan ke 10 dari tongkonan ini, umurnya diperkirakan sekitar 110 tahun.

Jumlah dari atap Tongkonan ini sekitar 1000 keping pahatan batu, dimana setiap pahatan batu memiliki ukuran 5 x 3 jengkal orang dewasa dengan berat 10 kg. Dengan struktur tongkonan ini yang hanya ditopang oleh 55 tiang yang seluruhnya terbuat dari kayu untuk menopang berat beban atap yang beratnya 10 ton membuat tongkonan ini memiliki keunikan tersendiri. tidak hanya itu, atap2 batu yang tersusun rapi ini hanya diikat oleh rotan, luar biasa bukan kekuatannya?

Menurut informasi pemilik tongkonan, selama berdirinya Tongkonan ini baru dua kali mengganti atap, penggantiannya tidak menyeluruh dn hanya dibeberapa titik saja untuk mengganti tali rotan yang sudah putus. Sangat sulit dipercaya namun itulah kenyataannya sebuah tongkonan yang berat atapnya 10 ton diidkat dengan tali rotan dan hanya ditopang oleh tiang kayu berjumlah 55 tiang masih mampu berdiri kokoh sampai sampai sekarang.

Lantai Tongkonan Papa Batu ini terbuat dari Papan yang dindingnya berukiran toraja yang masing-masing ukiran memiliki makna tersendiri dan tidak dan ukiran ini tidak sembarang digunakan di rumah tongkonan lain. selain itu tongkonan ini memilik 4 ruang, dan hanya ruang utama yang boleh dilihat itupun atas izin dari penghuni tongkonan ini yaitu Nenek Toyang.

Bangunan ini sangat disakralkan oleh pemilik Tongkonan, sehingga pengunjung yang ingin melihat bagian dalam dari Tongkonan ini harus mendapat izin dari penghuni Tongkonan, menurut cerita orang yang masuk tanpa izin atau didampingi oleh pemilik tongkonan akan jatuh sakit dan hanya satu obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini yaitu meminta maaf kembali kepada leluhur Tongkonan Papa Batu ini.

Masuk dalam ruangan Tongkonan Papa Batu ini, tidak hanya dengan minta izin dari pemilik Tongkonan ini namun ada ritual khusus yang harus dijalani. Sebelum naik di atas tongkonan, terlebuh dahulu penghuni akan naik ke atas untuk meminta izin dari leluhur tongkonan ini, setelah itu anda akan disuruh naik dan saat berada di depan pintu masuk tongkonan, pemilik tongkonan akan menyuruh anda untuk mengetok kepala anda sendiri sebanyak tiga kali. sangat unik bukan? berbeda dengan kebiasaan kita bertamu dimana pintu rumah yang akan diketok bukan kepala. Ritual ini harus dilakukan kalau tidak, saat anda kembali anda akan jatuh sakit dan obatnya hanya satu kembali ke Tongkonan ini dan meminta maaf kepada leluhur tongkonan.

Ada beberapa benda yang disakralkan dalam rumah tongkonan ini bentuknya seperti sesajen yang terdiri dari kulit pa'piong ( bekas bambu yang dibakar untuk memasak daging yang dicampur dengan sayurr-sayuran seperti mayana dll), padi, keranjang nasi tempo dulu, daun bambu dan  kepala kerbau yang masih utuh dengan tanduknya.

Salasatu bagian yang sangat disakralkan dalam tongkonan ini adalah tiang besar yang terdapat di tengah tongkonan, satu-satunya tiang yang paling besar yang menopang tongkonan ini. fungsi dari tiang ini dulunya digunakan sebagai tempat menambat kerbau yang akan dikurbankan jika  ada salasatu dari rumpun tongkonan yang meninggal yang akan diupacarakan. karena bagian ini sangat sakral dan dikeramatkan sehingga penghuni  atau keluarga dari tongkonan pun tidak sembarang  masuk dan menyentuh tiang ini.

Situs warisan budaya toraja ini tentunya memiliki cerita budaya masa lampau yang masih kental. Tongkonan yang berdiri 700 tahun yang lalu dengan atap batu dengan berat 10 ton yang hanya ditopang oleh tiang kayu sebanyak 55 mampu berdiri sampai sekarang, serta kesakralan dari tongkonan ini menjadikan tongkonan ini memiliki nilai histori yang sangat menarik untuk dikaji dan diteliti lebih jauh tentang sejarah dari Tongkonan Papa Batu ini.

Tentunya sebagai masyarakat Toraja sangat berharap Tongkonan ini bisa menjadi salasatu warisan dunia dan terdaftar dalam UNESCO untuk mendapat perlindungan dunia. Tentunya suatu kebanggaaan tersendiri bagi masyarakat indonesia khususnya Masyarakat Toraja jika situs warisan Budaya ini bisa masuk dakam salasatu warisan dunia yang perlu dijaga kelestariannya, jadi kapan ya?

Bagaimana? tertarik bukan mengunjungi tempat ini? Akses ke lokasi ini cukup mudah, anda bisa menggunakan roda dua atau roda empat untuk menjangkau tempat ini, jarak dari kota makale sekitar 10 km arah barat Tana Toraja.






Senin, 09 Oktober 2017

Rambut Terpanjang Ternyata Berasal Dari Tana Toraja


Seorang nenek berumur kira-kira 70 tahun  bernama Lai' Tasik Atau biasa dipanggil Nenek Semu yang berasal dari Tana Toraja  tepatnya di Lembang Salu Tandung Kecamatan Saluputti memiliki panjang rambut sekitar 24 meter.

Rambut panjang nenek Semu ini hampir  5 kali lipat lebih panjang dari pemilik rambut terpanjang  di dunia yang tercatat dalam  The Guinness Book Of  World Record yang asalnya dari Tiongkok bernama Xie Qiuping dengan panjang rambut 5,6 meter.

Rambut Terpanjang Ternyata Berasal Dari Tana Toraja

Nenek Semu ini hanya sekali memotong rambutnya saat berumur 10 tahun, namun setelah memotong rambut nenek Semu jatuh sakit sehingga saat itu si nenek tidak pernah lagi memotong rambutnya. Jika nenek ini beraktivitas di luar atau henda bepergian maka rambut nenek ini akan digulung ke atas dan ditutupi dengan kain sehingga tak banyak yang tahu jika nenek ini memiliki rambut yang panjang.

Katanya rambutnya ini memiliki kekuatan mistis sehingga tidak sembarang orang menyentuh rambutnya tanpa seizin dari nenek Semu ini.

Berita tentang nenek berambut panjang ini belum terlalu terekspose dan mungkin belum sampai ke pihak Museum Record Indonesia (MURI) untuk langsung datang mengecek kebenarannya dan layak masuk dalam record MURI atau bahkan record Dunia dengan kategori Rambut Terpanjang.

Untuk membuktikan kebenaran dari rambut terpanjang Nenek Semu ini, Sobat dapat melihat videonya dengan mengklik link berikut https://www.facebook.com/budayakutorajaku/. Sumber video ini dari Channel youtube Belo Tarran.

Semoga saja ya berita rambut terpanjang dari nenek ini bisa sampai di telinga pihak MURI ( Museum Recor Indonesia) untuk menambah kepopuleran Toraja di mata dunia.

Senin, 02 Oktober 2017

Kuburan Gua Alam Tampang Allo, Tempat Perjanjian Suami Isteri Sehidup Semati, Satu Kubur Kita Berdua

Tampang Allo adalah merupakan salasatu Lokasi objek wisata pekuburan gua alam yang terletak di lembang kaero kec. sangalla atau sekitar 9km dr pusat kota makale. Di dalam gua ini terdapat banyak erong erong dalam berbagai bentuk seperti kerbau babi,dan perahu.Tengkorak dan tulang belulang yang ada dalam gua tampang allo ini adalah korban dari fenomena ra'ba biang yang melanda toraja sekitar tahun 1918, Gua Tampang Allo ini merupakan salasatu gua tempat pekuburan massal saat itu.

Erong-erong dalam gua ini tersusun rapi menggantung di atas dinding gua bersama dengan tau-tau(patung) yang jenis dan susunannya berdasarkan strata atau status  sosial dari yang meninggal, selain itu terdapat juga banyak stalakmit yang selalu meneteskan air pada musim hujan.

Selain sebagai Tempat penguburan, ternyata Gua Tampang Allo juga ini memiliki sejarah atau cerita yang menarik, dimana Gua ini sebagai tempat terjadinya perjanjian yang diikat oleh sumpah dan janji sehidup semati, satu kubur kita berdua dari pasangan suami istri bernama RANGGA BULAAN DAN PUANG MENTURINO.

Konon Gua Tampang Allo ini ditetapkan oleh Puang Menturino dengan isterinya Rangga Bulaan sebagai tempat pemakaman mereka jika mereka meninggal dunia. Pada suatu ketika kampung Tangdan dilanda bencana oleh suatu penyakit yang menyebabkan semua penghuni kampung ini meninggal dunia,hanya satu penghuni kampung ini yang masih selamat yaitu seorang anak bangsawan yang masih kecil. suatu hari seekor kera masuk dalam kampung ini dan mendapati seorang anak kecil sedang menangis di atas rumah, diambilnyalah anak kecil itu dan si kera ini merawatnya sampai tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita,si gadis Cantik ini diberi nama Rangga Bulaaan.

Suatu hari Puang Menturino bersama dengan anak buahnya dari Kaero melakukan perburuan dan singgah beristirahat di sebuah sumur Dekat kampung Tangdan tidak jauh dari Rumah di mana si kera dan gadis cantik Rangga Bulaan tinggal. Seorang anak buah melihat keberadaan kera dan Rangga dan iapun bergegas melaporkannya kepada Puang Menturino. Kera pun tertawa dan bersuka-suka sambil berkata kepada anak buah Puang Menturino "Kalosingki mane la'pu' mane tantan sarumena" yang berarti gadis kami dalam pertumbuhan, masih perawan dan berparas ayu dan cantik.

Kuburan Gua Alam Tampang Allo

Setelah anak buah menyampaikan ini kepada Puang Menturino, diutusnyalah kembali anak buah itu menyampaikan kepada Si Kera bahwa Puang Menturino akan datang bertamu ke rumahnya. si Kera pun memasak labu dan menghamburkannya di atas rumah untuk menghalangi Puang Manturino naik di atas rumah menemui Rangga Bulaan, saat Puang Menturino hendsk naik di atas rumah si Kera pun menghalangi dengan alasan Si Gadis cantik Rangga sedang sakit dan kotrannya berceceran di atas rumah dan bau. Puang Menturino tidak menhirauakan ucapan si Kera dan naik di atas rumah dan langsung merangkul si Rangga Bulaan, iapun menyampaikan isi hatinya untuk menjadikan Rangga Sebagai pendamping hidupnya, Rangga pun menerima niat baik dan lamaran dari Puang Menturino dengan syarat melakukan perjanjian dengan diikat oleh sumpah karena Rangga hidup sebatang kara tidak memiliki sanak saudara, kecuali kera yang mengasuhnya sampai tumbuh menjadi dewasa, Puang Menturino menerima permintaaan Rangga, maka pada saat itu terjadilah sumpah sehidup semati, satu kubur berdua.

Dalam rumah tangganya kedua pasangan suami isteri ini hidup rukun dan damai bersama dengan pengasuhnya si Kera, setelah beberapa lama hidup menjadi suami isteri, si kera meminta pamit untuk berangkat ke Barana' rombe menggantung, dimana si kera akan mengakhiri hidupnya karena sudah sampai ajalnya, Rangga dengan berat hati tidak rela mengizinkan si kera untuk berangkat, namun karena si kera ajalnya semakin dekat maka kera pun tetap berangkat.

Sebelum berangkat si kera berpesan bahwa setelah 7 hari Rangga bersama suaminya harus menyusul ke Barana' rombe untuk mempersembahkan hewan kurban kepada arwah dari si kera yakni seekor kerbau belang atu tedong bonga dan seekor babi yang berkuku belang. Rangga dan suaminya menepati janjinya, dan setelah 7 hari berangkatlah Rangga bersama suaminya Puang Menturino ke Barana' Rombe. Setelah melakukan kurban kerbau belang dan babi brkuku belang, maka dilihatnyalah di atas pohon barana' tergantung mayat si kera dan sudah menjadi emas. Dan terdengar pulahlah suara yang menyatakan bahwa ambillah mayat saya ini yang sudah menjadi emas dan jadikanlah sebagi benda pusaka, kenangan sebagai tanda kasihku kepadamu berdua bersama turunanmu, simpan, jaga dan rawatlah dengan baik. Masukkanlah ke dlam bakul(baka) yang berganengan dua yang disebut BAKA SIROE. Palang tangan dari BAKA SIROE ini berbentuk Gayang (keris Emas) bernama gayang INDO' KALEKE sampai sekarang masih ada di madandan bersama baka siroe'.

Tampang allo,kuburan gua Alam

Setelah itu Rangga Bulaan meninggal lebih dulu dari suaminya Puang Menturino, mayatnya dimasukkan dalam erong dan diletakkan dalam gua Tampang Allo yang sudah disiapkan, waktu demi waktu Puang Menturinopun juga meninggal dunia kemuadian erongnya diletakkan di tempat pemakaman di LOSSO', tidak ditempatkan bersama dengan isterinya di gua tampang Allo. Pemakaman LOSSO" ini tidak jauh dari Pemakaman Gua Tampang Allo. Karena adanya perjanjian yang diikat dengan Sumpah sehidup semati sekubur berdua oleh Puang Menturino Dan Rangga Bulaan, sehingga ditemukan Erong Puang Menturino sudah kosong dan jenazahnya ditemukan berada bersatu dengan isterinya Rangga Bulaan dalam Gua Tampang Allo.

Demikianlah legenda atau cerita singkat dari Kisah Perjanjian yang diikat dengan sumpah Sehidup Semati, satu kubur berdua dari Puang Menturino Dan Rangga Bulaan

Sumber Artikel : W.P. SOMBOLINGGI'

Jumat, 29 September 2017

Beberapa Rekomendasi Tempat Wisata Eksotis Yang Ada Di Toraja

Tana Toraja the hidden paradise adalah sebuah ungkapan atau sapaan yang diberikan oleh traveller yang berkunjung ke toraja,dan menurut saya julukan yang tepat untuk menggambarkan toraja yang unik indah dan mengagumkan. tak hanya adat dan budayanya yang unik dan tiada duanya di dunia namun toraja  juga memiliki keindahan alam yang tak kala menarik untuk dikunjungi,keadaan alam yang masih alami serta hawanya yang dingin dan sejuk akan membuat mereka yang berkunjung ke toraja ingin berlama lama untuk menikmati keindahan toraja ini.

Nah, bagi sobat yang ingin berkunjung ke toraja, berikut saya akan memberikan informasi rekomendasi tempat atau spot yang menarik dan indah yang tak boleh anda lewatkan jika berkunjung ke toraja.

1. ollon

Ollon adalah salatu hidden paradise di tana toraja yang terletak di kec. bonnga karadeng tepatnya di lembang bau, sekitar 26 km dari pusat makale atau 3 jam perjalanan dengan kendaraan.Dalam perjalanan menuju tempat ini sobat akan disuguhkan dengan jajaran bukit teletubies yang hijau,hamparan petak-petak sawah dan anak sungai yang telihat dari atas bukit akan mengobati rasa lelah anda dalam perjalanan.

ollon, hidden paradise,toraja

berhubung karena tempat wisata ini masih baru, sehingga akses ke sana masih terbilang sulit dan sementara dalam perbaikan oleh Pemda tana toraja,namun pada musim kemarau tempat ini bisa dijangkau dengan kendaraan motor jenis trail.Keramahan dan senyum sapa penduduk di sana akan menyambut sobat setibanya di pusat lokasi wisata ini,sobat sekalian akan disuguhkan dengan perkampungan penduduk serta kearifan local mereka yang masih alami, sobat bisa berbagi cerita dengan penduduk di sana sekitar kehidupan harian mereka yang boleh dikata jauh dari suasana modern.

Di lokasi ini sobat akan disuguhkan dengan pemandangan padang rumput yang luas serta hamparan bukit teletubies yang menakjubkan. Dari atas bukit sobat juga bisa melihat sungai yang terbesar di toraja yaitu sungai sa'dan. Tak hanya itu sobat bisa jalan-jalan mengelilingi hamparan padang rumput dengan menyewa kuda penduduk setempat, di daerah ini kuda masih banyak dipelihara karena kuda adalah salasatu alat transportasi mereka untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan mereka.

banyak yang bilang kalau OLLON ini adalah replika dari new zealand, sehingga tempat ini salasatu rekomendasi tempat untuk melakukan poto prewedding sehingga, bagi sobat sekalian yang ingin berfoto prewedding dengan nuansa luar negeri ga usah jauh-jauh yah ke new zealand, di toraja ada juga kok,hehehe.

2. Pango-pango

Bagi sobat yang suka dengan agrowisata, maka pango-pango adalah tempatnya. Pango-pango terletak di kec. makale yang terletak di atas gunung dengan ketinggian sekitar 1600-1700 mdpl. pango-pango merupakan sebuah kawasan hutan pinus yang di dalamnya terdapat perkebunan kopi serta perkebunan penduduk berupa sayur-sayuran dan buah.

pango-pango,toraja

Dari pango-pango sobat akan menyaksikan keindahan seluruh kota Makale dan sekitarnya, Dalam kawasan hutan pinus tersedia gasebo-gasebo sebagai tempat beristirahat sambil menikmati hawa dingin dan sejuk . Selain itu terdapat villa jika sobat ingin meginap di tempat ini. Pango-pango juga salasatu tempat favorit bagi para tracker untuk berkemah.

pango-pango,agrowisata,hidddn paradise

Bagi anda yang suka dengan flyng fox, di sini tempatnya dengan panjang lintasan 120-150 meter, namun kedepannya akan ditingkatkan lagi dengan lintasan yang lebih panjang, sobat hanya membayar rp 15.000 maka sobat sudah bisa mencoba permainan ini.

3. Patung Yesus, Buntu Burake

Begitu banyak pilihan destinasi wisata di tana toraja,setelah agrowisata, kini bagi anda yang suka dengan wisata religi maka Objek wisata religi patung Yesus memberkati adalah tempatnya, lokasi wisata ini masih berada dalam wilayah kec. makale  di atas gunung burake sekitar 1km dari kota makale atau kira-kira 10 menit ditempuh dengan kendaraan mobil atau motor. Patung Yesus ini biasa anda saksikan menjulang tinggi di atas gunung jika sobat berada di sekitaran alun-alun kota makale. perlu sobat ketahui bahwa patung yesus ini adalah salasatu patung yesus tertinggi dengan tinggi mencapi 40 meter mengalahkan patung yesus penebus di Rio de Janeiro Brazil, keren kan...? jadi ga usah ke brazil sana, di toraja ada juga kok,hehe.

pango-pango,toraja

Bukan hanya patung Yesus ini yang akan sobat lihat, namun di tempat ini anda juga akan disuguhkan dengan pemandangan alun-alun kota makale dan sekitarnya,serta gua Maria yang lokasinya tidak jauh dari Tempat Patung Yesus berada, di tempat ini juga tersedia souvenir khas Toraja yang bisa anda beli sebagai ole-oleh untuk dibawa pulang.

4. Lolai, negeri di Atas Awan

Negeri Di atas Awan bukan hanya ada dalam negeri dongeng dan syair-syair lagu tp anda bisa menyaksikan dengan nyata di toraja tepatnya di Lolai, lembang kapala pitu toraja utara atau sekitar 26 km dari kota Rantepao. Loali berada di atas ketinggian 1300 mdpl. Di tempat ini sobat akan disuguhkan dengan Gugusan awan putih yang terlihat lebih rendah dari posisi kita berdiri di puncak sehingga seolah olah kita terlihat seperti berada di atas awan. selain itu anda bisa menyaksikan pemandangan eksotis sunrhise yang akan perlahan lahan muncul dari balik awan dengan pancaran warna jingganya.

Spot atau tempat yang paling menarik untukmenikmati eksotisme dari fenomena awan dan sunrhise ini adalah di sebuah lokasi yang bernama tongkonan lempe. di sini sobat bisa bersantai di depan halaman tongkonan, atau duduk di atas lumbung menikmati panorama awan dan sunrhise sambil menikmati suguhan kopi atau sejenisnya. Tak hanya eksotisme awan dan sunrhise namun di sini juga sobat akan dimanjakan dengan hamparan pegunungan berselimut kabut serta hamparan sawah yang luas.

lolai,negeri di atas awan,toraja

Pesona awan yang eksotis ini tidak berlangsung tiap hari namun tergantung dari cuaca di tempat ini,fenomena ini akan berlangsung dari pagi sekitar pukul 05:30  sampai jam 09:30, jadi jika sobat ingin ke tempat ini bisa mencari informasi terlebih dahulu tentang perkiraan cuaca di tempat ini, dan saya sarankan sobat berangkat subuh atau bahkan menginap di tempat ini jika tidak ingin ketinggalan moment ini.

Kalau sobat ingin menginap di sana sudah tersedia tenda yang bisa disewa yang dipasang di depan halaman tongkonan, atau kalau sobat ingin merasakan sensasi tidur di atas tongkonan,anda bisa menyewa tongkonan ini atau lumbung yang berada di tempat ini,hmm,sungguh menarik bukan...?

Nah itulah  beberapa rekomendasi tempat dari sekian banyak lokasi di Toraja yang anda kunjungi, belum lagi yah rekomendasi tempat-tempat wisata yang butuh nyali untuk mengunjunginya seperti pekuburan batu, gua-gua yang eksotis dimana anda bisa menyaksikan tengkorak dan tulang belulang manusia yang berserakan, permandian alam,dan masih banyak lainnya yang bisa anda liat dan kunjungi jika sobat berkunjung ke toraja nanti saya akan bahas di artkel selanjutnya

sekian dan terima kasih, semoga bermamfaat.

Rabu, 20 September 2017

Ra'ba Biang, Fenomena Kematian Dan Penguburan Massal Di Toraja Sekitar Tahun 1918

Tana toraja memiliki banyak kisah sejarah yang patut untuk diketahui, mulai dari sejarah atau kisah datangnya nenek moyang suku Toraja, sejarah tentang kehidupan masyarakat suku toraja pada masa lampau,sejarah masuknya agama kristen oleh misionaris dari Belanda, dan kisah-kisah perjuangan masyarakat melawan penjajah serta masih banyak kisah lainnya.

Ra'ba Biang, Fenomena Kematian Dan Penguburan Massal Di Toraja Sekitar Tahun 1918

Nah, tahukah anda selain kisah tersebut di atas, ada sebuah kisah fenomena yang tak terbantahkan terjadi di Toraja bahkan juga terjadi di beberapa wilayah di Indonesia yakni fenomena kematian yang dikenal dengan RA'BA BIANG, yakni sebuah wabah influenza yang menyerang masyarakat Toraja sekitar tahun 1918 yang menyebabkan kematian ribuan masyarakat Toraja.

Karena begitu banyaknya orang yang meninggal sehingga orang Toraja menyebutnya RA'BA BIANG : Orang yang mati bagikan biang (sejenis gelagah) yang rebah (ra'bah) serempak ditiup angin kencang). Menurut informasi yang beredar dari mulut ke mulut bahwa pada saat terjadi fenomena ra'ba biang ini, orang-orang kewalahan untuk menguburkan jenazah. Bahkan ketika orang sedang melaksanakan penguburan ada lagi yang meninggal dengan gejalah yang sama yakni mengalami demam tinggi, sakit kepala menusuk dan sakit pada tulang-tulang sendi lalu akhirnya meninggal. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang dengan gejala yang sama sebelum meninggal sehingga orang toraja beranggapan bahwa wabah ini merupakan kutukan.

Nyaris tak ada ritual dalam prosesi pemakaman jenazah. Menurut cerita, orang yang meninggal dimasukkan begitu saja ke dalam lo'ko' ( batu yang dilubangi pada tebing gunung batu, atau gua alam) tanpa ada prosesi adat atau ritual adat yang dilaksanakan. dari peristiwa ini muncullah suatu istilah yakni didedekan palungan bai.

Arti dari didedekan palungan bai ini yakni tempat makanan babi ini dipukul berkali kali yang maksudnya bahwa setiap orang yang mati sudah dapat dikuburkan, tindakan ini sudah bisa menggantikan kewajiban untuk memotong kerbau atau babi mengingat pada saat itu situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan ritual tersebut, dan katanya ada juga yang hanya memotong sedikit telinga babi sampai keluar darahnya.

Dari peristiwa ini terjadilah desas desus di kalangan masyarakat toraja mengenai wabah ini. Ada yang mengatakan bahwa peristiwah ini terjadi karena banyak yang sudah melanggar atau sudah tidak mengikuti lagi ajaran aluk todolo(kepercayaan asli suku Toraja), dan ada juga yang beranggapan bahwa wabah ini terjadi karena pembunuhan misionaris belanda    A.A. van de Loosdrecht yang pertamakali membawa ajaran kristen ke Toraja.

Karena tidak adanya informasi dalam bentuk literal yang bisa menjelaskan informasi dan bukti bukti autentik di balik peristiwa ini. Peristiwa Ra'ba biang ini hanya diceritakan dari mulut ke mulut sehingga informasi tentang peristiwa ini perlahan mulai hilang ditelan waktu.

Setelah membaca hasil kajian literatur peneliti dari luar negeri tentang Fenomena wabah ini, ternyata ra'ba biang ini terjadi di seluruh dunia. Wabah ini dikenal dengan Wabah Spanyol. salasatu wabah yang paling mematikan yang pernah terjadi di dunia.

Menurut informasi  wabah ini memakan korban sekitar 50 juta, melebihi jumlah korban yang meninggal pada perang dunia pertama.Hal ini diungkap dalam artikel di situs resmi Universitas StanfordThe influenza pandemic of 1918-1919 killed more people than the Great War, known today as World War I (WWI), at somewhere between 20 and 40 million people. It has been cited as the most devastating epidemic in recorded world history. More people died of influenza in a single year than in four-years of the Black Death Bubonic Plague from 1347 to 1351. Known as "Spanish Flu" or "La Grippe" the influenza of 1918-1919 was a global disaster. (dikutip dari https://virus.stanford.edu/uda/).

Dari catatan pemerintah Hindia Belanda, yang dikutip dalam prayitno (2009), wabah ini asal mulanya dari China. Negara pertam di Asia yang terjangkit influensa, dan menyebar hingga pantai utara Sumatera. Konsul Belanda di Singapura sempat memberi peringatan kepada Pemerintah Batavia untuk waspada terhadap kedatangan orang yang tertular flu dari daratan China. Namun sayangnya peringatan tersebut tidak sampai ke daerah lain, sehingga virus penyakit tersebut menjalar melalui pelabuhan besar di Makassar dan daerah-daerah lainnya. Perlu diketahui bahwa pada masa itu Makassar merupakan salah satu basis pertahanan Belanda untuk menguasai Indonesia bagian timur dan Tana Toraja yang secara geografis berdekatan dengan Makassar, merupakan destinasi strategis bagi pemerintah kolonial Belanda dalam memperluas daerah jajahannya dibanding dengan daerah-daerah disekitarnya yang telah dikuasai oleh kerajaan Gowa Tallo dan kerajaan Luwu. Kenyataan tersebut diyakini menjadi faktor utama tersebarnya wabah ra’ba biang di Tana Toraja.