Jumat, 07 Desember 2018

Bulan Desember Toraja Akan Disemarakkan Dengan Berbagai Macam Event Besar,Berikut Jadwal Dan Tempat Kegiatannya

Seperti tahun-tahun sebelumnya di Tana Toraja dan Toraja Utara, pada bulan desember dimeriahkan dengan berbagai macam event besar seperti pentas seni,jelajah wisata,pameran,kuliner dll. kegiatan ini dikemas dalam satu acara yang disebut event LOVELY DESEMBER, pemberian nama event ini oleh gubernur terdahulu bapak SYAHRUL YASIN LIMPO, dan pada tahun ini event ini kembali digelar namun dengan nama yang berbeda, event tahun ini berganti nama menjadi KEMILAU TORAJA



Nah, apa saja event atau kegiatan yang akan dilaksanakan dalam event kemilau Toraja? berikut jadwal lengkapnya

1 - 5 Desember
Panggilan beribadah (membunyikan lonceng,bedug, dan gendang di masing-masing rumah ibadah)
3 - 5 Desember :
Membersihkan Rumah ibadah
4 Desember:
Peletakan batu penjuru BPSW III Gereja Toraja
6 Desember:
Shymponi kidung dan Qasidah ( pastoran makale)
7 - 8 Desember : Gerakan cinta lingkungan ( membersihkan masing-masing rumah ibadah)
8 - 9 Desember : Festival Kopi Toraja ( pango-pango)
10 - 11 Desember : Gerakan cinta lingkungan  ( membersihkan lingkungan dan menanam pohon)
12 - 19 Desember;: Acara rapat koordinasi regional, nasional dan konfrensi (panitia)
13 Desember: simphony kidung, choir anak/remaja dan nasyid ( BPSW III makale)
14 - 15 Desember : jelajah sepeda wisata (start Buntu Burake )
18 Desember  : Mebale dan melendong ( persawahan mandetek)
19 - 20 Desember : Atraksi kerajinan rakyat dan festival kuliner toraja ( taman rakyat kolam makale)
22 Desember:
Safari Natal ( panitia KWS kecamatan di lion, tondok iring,bittuang,ge'tengan, rante buttu)
20 Desember: Kesenian daerah dan atraksi rakyat (potensi kecamatan)
21 Desember:
Simphony,choir, PS kidung dan Qasidah, cerdas tangkas( perwakilan lembaga kecamatan dan keumatan)
22 Desember: Natal oikumene di kawasan kecamatan( rakyat dan lembaga keumatan)
22 Desember: jejak dan jelajah wisata ( toraja trail adventure)
23 Desember : Uji nayli burake dan lomba foto tana toraja (Buntu Burake)
24 Desember:
acara kenegaraan ( peresmian dan penandatanganan prasasti kunjungan pasar tradisional,jalan sehat)
25 Desember : selamat hari raya natal
26 -27 Desember :
Festival tenun toraja dan parade seni dan antraksi ( gedung tammuan mali, pasar seni)
28 Desember : puncak kemilau toraja, natal oikumene (FKUB taman rakyat kolam makale)
29 Desember: color run toraja (start Burake)
29 Desember: Gloria sion ( refleksi kelahiran Juruselamat)
30 Desember: Hiburan Rakyat/Band Performance (pasar seni makale)
31 Desember : ma' barattung ( taman Rakyat Kolam makale)
31 Deseber: melepas 2018 dan menggapai 2019 ( panitia).

Nah, itulah jadawal rangkaian kegiatan Event Kemilau Toraja 2018. silahkan atur baik-baik waktu anda untuk hadir dan menyaksikan kegiatan-kegiatan di atas yah?



Sabtu, 24 Maret 2018

Aksi Foto Selfie Menginjak Tengkorak Mendapat Kecaman Dari Berbagai Unsur Elemen Masyarakat Toraja

Media sosial akhir-akhir ini dihebohkan dengan aksi alay wisatawan di ke'te' Kesu' yang berpose dengan gaya seperti seolah-olah menginjak tengkorak dan memegang tulang belulang mayat dan berpose seolah-olah bermain gitar dan menguploadnya ke media sosial. Sontak kejadian ini membuat geram warga masyarakat Toraja karena dianggap menghina leluhur orang toraja serta melecehkan adat Toraja ,foto-foto kedua wisatawan ini dengan cepat beredar luas di berbagai macam media sosial,berbagai macam komentar pedas bermunculan dikolom komentar foto-foto kedua wisatawan alay ini. Sebagian besar komentar para netizen mengutuk aksi kedua wisatawan ini dan meminta kedua wisatawan ini didenda secara adat dan kemudian meminta kepada pihak yang berwajib untuk menangani dan memproses sesuai dengan pasal hukum yang dilanggar dengan harapan memberi efek jera bagi pelaku sehingga kejadian ini tidak terulang lagi kedepannya.




Tak hanya di dunia maya,peristiwa ini juga mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai unsur elemen masyarakat Toraja. Dikutip dari Media online Karebatoraja.com ketua DPP Gasmator Andarias mengutuk keras tindakan ini. Menurutnya aksi kedua wisatawan ini sangat tidak sopan dan menghina adat dan budaya Toraja. Gasmator kini berkordinasi dengan Laskar Lakipadada utuk mencari keberadaan kedua pelaku untuk dimintai pertanggungjawaban serta motif dari kedua perbuatan wisatwan tersebut, Gasmator juga menghimbau pihak kepolisian resor Tana Toraja agar pro aktif dalam melacak keberadaan pelaku. Menurut Pangeran Tandilangi' yang merupakan pendiri Gasmator perbuatan mereka ini masuk dalam kategoro pelanggaran hukum yakni undang-undang tahun nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Baca berita lengkapnya :Gasmator kutuk "insiden" Injak Tengkorak Di Ke'te Kesu'

Dikutip dari media yang sama, sekelompok pemuda yang mengatasnamakan Keluarga Besar Anak Muda Buntu Borong (AMBB) mendesak dan meminta aparat kepolisian untuk segera mengamankan pelaku,menurut mereka jika tidak segera diamankan maka akan muncul keresahan yang berkepanjangan dikalangan masyarakat Toraja. Ketua keluarga besar AMBB, Roberto Landa dengan tegas meminta parat kepolisian untuk mengamankan kedua pelaku dan diproses baik secara hukum positif maupun hukum adat.



Semntara itu Kapolres  Tana TorajaAKBP Julianto P. Sirait mengatakan pihaknya telah menelusuri dan mencari keberadaan kedua wisatawan tersebut, dan meminta kepada warga masyarakat Toraja untuk tidak terprovokasi daan tetap menjaga situasi tetap kondusif.

Baca berita lengkapnya: Anak Muda Buntu Borong Minta Segera Polisi Tangkap Pelaku "Injak Tengkorak" Di Ke'te' Kesu'

Nah, dari peristiwa ini semoga kita para wisatawan jika berkunjung ke suatu tempat hendaknya kita tetap menjaga sikap dan perilaku jika kita berkunjung suatu tempat wisata, seperti pepatah yang mengatakan "Di mana Langit dipijak, disitu langit dijunjung"alangkah baiknya kita meminta arahan-arahan dari pemandu wisata atau petugas setempat dan membaca peraturan dan larangan-larangan yang berlaku di lokasi wisata tersebut.

Dari kejadian ini juga semoga pemerintah Tana Toraja dan Toraja Utara khususnya Dinas Pariwisata dan pengelolah objek wisata untuk lebih memperhatikan wisatawan dan  segera memasang peraturan-peraturan dan larangan atau hal-hal yang tidak boleh dilakukan wisatawan selama berada di objek wisata tersebut.

Jumat, 29 Desember 2017

Luar Biasa, Toraja Utara Pecahkan Dua Rekor MURI Dalam Event Lovely December 2017 DI Toraja Utara

Lovely December 2017 adalah merupakan event tahunan di Kabupaten Tana Toraja Dan Toraja Utara, event Lovely December 2017 Kali ini merupakan event yang ke 10 kali diadakan, di mana yang bertindak sebagai tuan rumah adalah kab . Toraja Utara, event tahun lalu berlangsung di kab. Tana Toraja.

Dalam even kali ini tercipta dua rekor MURI yakni menara bambu replika pohon natal setinggi 45 meter dan rekor mencicipi kopi terbanyak yakni 2500 peserta.

Toraja Utara Pecahkan Dua   Rekor MURI  Dalam Event Lovely December 2017 DI Toraja Utara

Pemecahan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) yakni menara bambu replika pohon natal resmi diumumkan setelah selesai ibadah natal oikumene di lapangan bakti rantepao. Ini ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh gubernur Syahrul Yasin Limpo, Bupati Tana Toraja Ir. Nikodemus Biringkanae, dan Bupati Toraja Utara Kala’ Tiku Paembonan serta kepala dines Kehutanan propinsi Sulawesi selatan diiringi dengan penyalaan lampu-lampu yang menghiasi menara dan pesta kembang api.

Pemberian piagam penghargaan diberikan langsung oleh manager senior MURI Yusuf Ngadri kepada Bapak Gubernur Syahrul Yasin Limpo. Pembuatan pohon natal dari bambu ini kerjasama dengan Dinas Kehutan Provinsi Sulawesi selatan dengan Pemerintah Kabupaten Toraja utara sebagai penyelenggara event lovely december.

Rekor MURI yang kedua, mencicipi kopi dengan peserta terbanyak yakni 2500 peserta, resmi diumumkan sesaat setelah penyelenggaraan festival kontes kerbau, tempat mencicipi kopi ini tersedia di empat tempat di masing-masing sudut lapangan Bakti Rantepao, dimana kopi ini berasal dari kecamatan-kecamatan yang ada di rantepao yang memiliki kwalitas kopi terbaik di Toraja Utara yakni Sa’dan,Sesean Suloara, Kapala Pitu, awan rante karua, buntu pepasan, Rantebua dan Bangkele kila’.
Dalam pemecahan rekor MURI ini, Kepala Dinas Pertanian Toraja Utara, Daud Pongsapan berharap semoga para petani kopi di toraja ini lebih semangat dalam mengelolah pertanian kopi mereka untuk lebih menghasilkan kwalitas kopi terbaik, sehingga semakin dikenal luas dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat toraja Utara. Dalam event festival kopi ini diadakan juga lomba rasa kopi terbaik dari 7 kecamatan dimana yang keluar sebagai pemenang adalah kecamatan awan

Jumat, 20 Oktober 2017

Rumah Tongkonan Toraja Beratap Batu Dengan Berat 10 Ton

Tongkonan adalah sebutan untuk rumah adat toraja, yang mempunyai fungsi sebagai tempat berkumpulnya rumpun keluarga besar,sebagai tempat melangsungkan acara-acara adat baik rambu tuka' maupun rambu solo'. Rumah tongkonan berbentuk perahu dan atapnya terbuat dari bambu, namun saat ini rumah tongkonan kebanyakan sudah tidak menggunakan atap bambu lagi namun diganti dengan atap seng, dengan alasan praktis dan pengerjaannya cepat dibanding dengan atap bambu yang proses pemasangan membutuhkan waktu yang panjang dan rumit.

Rumah Tongkonan Toraja Beratap Batu  Dengan Berat  10 Ton

Selain menggunakan atap bambu dan seng, ternyata ada sebuah rumah tongkonan di toraja yang atapnya terbuat dari batu dan beratnya diperkirakan mencapai 10 ton,luar biasa ya?. Rumah tongkonan ini terletak di Desa Banga' Kecamatan Rembon Kabupaten Tana Toraja. Masyarakat  menyebut tongkonan ini dengan tongkonan "papa batu" yang artinya tongkonan yang atapnya terbuat dari batu. menurut informasi Tongkonan ini diperkirakan sudah berumur kurang lebih 700 tahun.

Pendiri  dan sekaligus penghuni tongkonan ini yang pertama kalinya disebut Nenek Buntu Datu, dan sekarang Tongkonan ini dihuni oeh salasatu keluarga dari rumpun pemilik tongkonan ini yaitu seorang nenek yang bernama Nenek Toyang yang merupakan Turunan ke 10 dari tongkonan ini, umurnya diperkirakan sekitar 110 tahun.

Jumlah dari atap Tongkonan ini sekitar 1000 keping pahatan batu, dimana setiap pahatan batu memiliki ukuran 5 x 3 jengkal orang dewasa dengan berat 10 kg. Dengan struktur tongkonan ini yang hanya ditopang oleh 55 tiang yang seluruhnya terbuat dari kayu untuk menopang berat beban atap yang beratnya 10 ton membuat tongkonan ini memiliki keunikan tersendiri. tidak hanya itu, atap2 batu yang tersusun rapi ini hanya diikat oleh rotan, luar biasa bukan kekuatannya?

Menurut informasi pemilik tongkonan, selama berdirinya Tongkonan ini baru dua kali mengganti atap, penggantiannya tidak menyeluruh dn hanya dibeberapa titik saja untuk mengganti tali rotan yang sudah putus. Sangat sulit dipercaya namun itulah kenyataannya sebuah tongkonan yang berat atapnya 10 ton diidkat dengan tali rotan dan hanya ditopang oleh tiang kayu berjumlah 55 tiang masih mampu berdiri kokoh sampai sampai sekarang.

Lantai Tongkonan Papa Batu ini terbuat dari Papan yang dindingnya berukiran toraja yang masing-masing ukiran memiliki makna tersendiri dan tidak dan ukiran ini tidak sembarang digunakan di rumah tongkonan lain. selain itu tongkonan ini memilik 4 ruang, dan hanya ruang utama yang boleh dilihat itupun atas izin dari penghuni tongkonan ini yaitu Nenek Toyang.

Bangunan ini sangat disakralkan oleh pemilik Tongkonan, sehingga pengunjung yang ingin melihat bagian dalam dari Tongkonan ini harus mendapat izin dari penghuni Tongkonan, menurut cerita orang yang masuk tanpa izin atau didampingi oleh pemilik tongkonan akan jatuh sakit dan hanya satu obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini yaitu meminta maaf kembali kepada leluhur Tongkonan Papa Batu ini.

Masuk dalam ruangan Tongkonan Papa Batu ini, tidak hanya dengan minta izin dari pemilik Tongkonan ini namun ada ritual khusus yang harus dijalani. Sebelum naik di atas tongkonan, terlebuh dahulu penghuni akan naik ke atas untuk meminta izin dari leluhur tongkonan ini, setelah itu anda akan disuruh naik dan saat berada di depan pintu masuk tongkonan, pemilik tongkonan akan menyuruh anda untuk mengetok kepala anda sendiri sebanyak tiga kali. sangat unik bukan? berbeda dengan kebiasaan kita bertamu dimana pintu rumah yang akan diketok bukan kepala. Ritual ini harus dilakukan kalau tidak, saat anda kembali anda akan jatuh sakit dan obatnya hanya satu kembali ke Tongkonan ini dan meminta maaf kepada leluhur tongkonan.

Ada beberapa benda yang disakralkan dalam rumah tongkonan ini bentuknya seperti sesajen yang terdiri dari kulit pa'piong ( bekas bambu yang dibakar untuk memasak daging yang dicampur dengan sayurr-sayuran seperti mayana dll), padi, keranjang nasi tempo dulu, daun bambu dan  kepala kerbau yang masih utuh dengan tanduknya.

Salasatu bagian yang sangat disakralkan dalam tongkonan ini adalah tiang besar yang terdapat di tengah tongkonan, satu-satunya tiang yang paling besar yang menopang tongkonan ini. fungsi dari tiang ini dulunya digunakan sebagai tempat menambat kerbau yang akan dikurbankan jika  ada salasatu dari rumpun tongkonan yang meninggal yang akan diupacarakan. karena bagian ini sangat sakral dan dikeramatkan sehingga penghuni  atau keluarga dari tongkonan pun tidak sembarang  masuk dan menyentuh tiang ini.

Situs warisan budaya toraja ini tentunya memiliki cerita budaya masa lampau yang masih kental. Tongkonan yang berdiri 700 tahun yang lalu dengan atap batu dengan berat 10 ton yang hanya ditopang oleh tiang kayu sebanyak 55 mampu berdiri sampai sekarang, serta kesakralan dari tongkonan ini menjadikan tongkonan ini memiliki nilai histori yang sangat menarik untuk dikaji dan diteliti lebih jauh tentang sejarah dari Tongkonan Papa Batu ini.

Tentunya sebagai masyarakat Toraja sangat berharap Tongkonan ini bisa menjadi salasatu warisan dunia dan terdaftar dalam UNESCO untuk mendapat perlindungan dunia. Tentunya suatu kebanggaaan tersendiri bagi masyarakat indonesia khususnya Masyarakat Toraja jika situs warisan Budaya ini bisa masuk dakam salasatu warisan dunia yang perlu dijaga kelestariannya, jadi kapan ya?

Bagaimana? tertarik bukan mengunjungi tempat ini? Akses ke lokasi ini cukup mudah, anda bisa menggunakan roda dua atau roda empat untuk menjangkau tempat ini, jarak dari kota makale sekitar 10 km arah barat Tana Toraja.






Senin, 09 Oktober 2017

Rambut Terpanjang Ternyata Berasal Dari Tana Toraja


Seorang nenek berumur kira-kira 70 tahun  bernama Lai' Tasik Atau biasa dipanggil Nenek Semu yang berasal dari Tana Toraja  tepatnya di Lembang Salu Tandung Kecamatan Saluputti memiliki panjang rambut sekitar 24 meter.

Rambut panjang nenek Semu ini hampir  5 kali lipat lebih panjang dari pemilik rambut terpanjang  di dunia yang tercatat dalam  The Guinness Book Of  World Record yang asalnya dari Tiongkok bernama Xie Qiuping dengan panjang rambut 5,6 meter.

Rambut Terpanjang Ternyata Berasal Dari Tana Toraja

Nenek Semu ini hanya sekali memotong rambutnya saat berumur 10 tahun, namun setelah memotong rambut nenek Semu jatuh sakit sehingga saat itu si nenek tidak pernah lagi memotong rambutnya. Jika nenek ini beraktivitas di luar atau henda bepergian maka rambut nenek ini akan digulung ke atas dan ditutupi dengan kain sehingga tak banyak yang tahu jika nenek ini memiliki rambut yang panjang.

Katanya rambutnya ini memiliki kekuatan mistis sehingga tidak sembarang orang menyentuh rambutnya tanpa seizin dari nenek Semu ini.

Berita tentang nenek berambut panjang ini belum terlalu terekspose dan mungkin belum sampai ke pihak Museum Record Indonesia (MURI) untuk langsung datang mengecek kebenarannya dan layak masuk dalam record MURI atau bahkan record Dunia dengan kategori Rambut Terpanjang.

Untuk membuktikan kebenaran dari rambut terpanjang Nenek Semu ini, Sobat dapat melihat videonya dengan mengklik link berikut https://www.facebook.com/budayakutorajaku/. Sumber video ini dari Channel youtube Belo Tarran.

Semoga saja ya berita rambut terpanjang dari nenek ini bisa sampai di telinga pihak MURI ( Museum Recor Indonesia) untuk menambah kepopuleran Toraja di mata dunia.

Senin, 02 Oktober 2017

Kuburan Gua Alam Tampang Allo, Tempat Perjanjian Suami Isteri Sehidup Semati, Satu Kubur Kita Berdua

Tampang Allo adalah merupakan salasatu Lokasi objek wisata pekuburan gua alam yang terletak di lembang kaero kec. sangalla atau sekitar 9km dr pusat kota makale. Di dalam gua ini terdapat banyak erong erong dalam berbagai bentuk seperti kerbau babi,dan perahu.Tengkorak dan tulang belulang yang ada dalam gua tampang allo ini adalah korban dari fenomena ra'ba biang yang melanda toraja sekitar tahun 1918, Gua Tampang Allo ini merupakan salasatu gua tempat pekuburan massal saat itu.

Erong-erong dalam gua ini tersusun rapi menggantung di atas dinding gua bersama dengan tau-tau(patung) yang jenis dan susunannya berdasarkan strata atau status  sosial dari yang meninggal, selain itu terdapat juga banyak stalakmit yang selalu meneteskan air pada musim hujan.

Selain sebagai Tempat penguburan, ternyata Gua Tampang Allo juga ini memiliki sejarah atau cerita yang menarik, dimana Gua ini sebagai tempat terjadinya perjanjian yang diikat oleh sumpah dan janji sehidup semati, satu kubur kita berdua dari pasangan suami istri bernama RANGGA BULAAN DAN PUANG MENTURINO.

Konon Gua Tampang Allo ini ditetapkan oleh Puang Menturino dengan isterinya Rangga Bulaan sebagai tempat pemakaman mereka jika mereka meninggal dunia. Pada suatu ketika kampung Tangdan dilanda bencana oleh suatu penyakit yang menyebabkan semua penghuni kampung ini meninggal dunia,hanya satu penghuni kampung ini yang masih selamat yaitu seorang anak bangsawan yang masih kecil. suatu hari seekor kera masuk dalam kampung ini dan mendapati seorang anak kecil sedang menangis di atas rumah, diambilnyalah anak kecil itu dan si kera ini merawatnya sampai tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita,si gadis Cantik ini diberi nama Rangga Bulaaan.

Suatu hari Puang Menturino bersama dengan anak buahnya dari Kaero melakukan perburuan dan singgah beristirahat di sebuah sumur Dekat kampung Tangdan tidak jauh dari Rumah di mana si kera dan gadis cantik Rangga Bulaan tinggal. Seorang anak buah melihat keberadaan kera dan Rangga dan iapun bergegas melaporkannya kepada Puang Menturino. Kera pun tertawa dan bersuka-suka sambil berkata kepada anak buah Puang Menturino "Kalosingki mane la'pu' mane tantan sarumena" yang berarti gadis kami dalam pertumbuhan, masih perawan dan berparas ayu dan cantik.

Kuburan Gua Alam Tampang Allo

Setelah anak buah menyampaikan ini kepada Puang Menturino, diutusnyalah kembali anak buah itu menyampaikan kepada Si Kera bahwa Puang Menturino akan datang bertamu ke rumahnya. si Kera pun memasak labu dan menghamburkannya di atas rumah untuk menghalangi Puang Manturino naik di atas rumah menemui Rangga Bulaan, saat Puang Menturino hendsk naik di atas rumah si Kera pun menghalangi dengan alasan Si Gadis cantik Rangga sedang sakit dan kotrannya berceceran di atas rumah dan bau. Puang Menturino tidak menhirauakan ucapan si Kera dan naik di atas rumah dan langsung merangkul si Rangga Bulaan, iapun menyampaikan isi hatinya untuk menjadikan Rangga Sebagai pendamping hidupnya, Rangga pun menerima niat baik dan lamaran dari Puang Menturino dengan syarat melakukan perjanjian dengan diikat oleh sumpah karena Rangga hidup sebatang kara tidak memiliki sanak saudara, kecuali kera yang mengasuhnya sampai tumbuh menjadi dewasa, Puang Menturino menerima permintaaan Rangga, maka pada saat itu terjadilah sumpah sehidup semati, satu kubur berdua.

Dalam rumah tangganya kedua pasangan suami isteri ini hidup rukun dan damai bersama dengan pengasuhnya si Kera, setelah beberapa lama hidup menjadi suami isteri, si kera meminta pamit untuk berangkat ke Barana' rombe menggantung, dimana si kera akan mengakhiri hidupnya karena sudah sampai ajalnya, Rangga dengan berat hati tidak rela mengizinkan si kera untuk berangkat, namun karena si kera ajalnya semakin dekat maka kera pun tetap berangkat.

Sebelum berangkat si kera berpesan bahwa setelah 7 hari Rangga bersama suaminya harus menyusul ke Barana' rombe untuk mempersembahkan hewan kurban kepada arwah dari si kera yakni seekor kerbau belang atu tedong bonga dan seekor babi yang berkuku belang. Rangga dan suaminya menepati janjinya, dan setelah 7 hari berangkatlah Rangga bersama suaminya Puang Menturino ke Barana' Rombe. Setelah melakukan kurban kerbau belang dan babi brkuku belang, maka dilihatnyalah di atas pohon barana' tergantung mayat si kera dan sudah menjadi emas. Dan terdengar pulahlah suara yang menyatakan bahwa ambillah mayat saya ini yang sudah menjadi emas dan jadikanlah sebagi benda pusaka, kenangan sebagai tanda kasihku kepadamu berdua bersama turunanmu, simpan, jaga dan rawatlah dengan baik. Masukkanlah ke dlam bakul(baka) yang berganengan dua yang disebut BAKA SIROE. Palang tangan dari BAKA SIROE ini berbentuk Gayang (keris Emas) bernama gayang INDO' KALEKE sampai sekarang masih ada di madandan bersama baka siroe'.

Tampang allo,kuburan gua Alam

Setelah itu Rangga Bulaan meninggal lebih dulu dari suaminya Puang Menturino, mayatnya dimasukkan dalam erong dan diletakkan dalam gua Tampang Allo yang sudah disiapkan, waktu demi waktu Puang Menturinopun juga meninggal dunia kemuadian erongnya diletakkan di tempat pemakaman di LOSSO', tidak ditempatkan bersama dengan isterinya di gua tampang Allo. Pemakaman LOSSO" ini tidak jauh dari Pemakaman Gua Tampang Allo. Karena adanya perjanjian yang diikat dengan Sumpah sehidup semati sekubur berdua oleh Puang Menturino Dan Rangga Bulaan, sehingga ditemukan Erong Puang Menturino sudah kosong dan jenazahnya ditemukan berada bersatu dengan isterinya Rangga Bulaan dalam Gua Tampang Allo.

Demikianlah legenda atau cerita singkat dari Kisah Perjanjian yang diikat dengan sumpah Sehidup Semati, satu kubur berdua dari Puang Menturino Dan Rangga Bulaan

Sumber Artikel : W.P. SOMBOLINGGI'