Rumah Tongkonan Toraja Beratap Batu Dengan Berat 10 Ton

Tongkonan adalah sebutan untuk rumah adat toraja, yang mempunyai fungsi sebagai tempat berkumpulnya rumpun keluarga besar,sebagai tempat melangsungkan acara-acara adat baik rambu tuka' maupun rambu solo'. Rumah tongkonan berbentuk perahu dan atapnya terbuat dari bambu, namun saat ini rumah tongkonan kebanyakan sudah tidak menggunakan atap bambu lagi namun diganti dengan atap seng, dengan alasan praktis dan pengerjaannya cepat dibanding dengan atap bambu yang proses pemasangan membutuhkan waktu yang panjang dan rumit.





Selain menggunakan atap bambu dan seng, ternyata ada sebuah rumah tongkonan di toraja yang atapnya terbuat dari batu dan beratnya diperkirakan mencapai 10 ton,luar biasa ya?. Rumah tongkonan ini terletak di Desa Banga' Kecamatan Rembon Kabupaten Tana Toraja. Masyarakat  menyebut tongkonan ini dengan tongkonan "papa batu" yang artinya tongkonan yang atapnya terbuat dari batu. menurut informasi Tongkonan ini diperkirakan sudah berumur kurang lebih 700 tahun.

Pendiri  dan sekaligus penghuni tongkonan ini yang pertama kalinya disebut Nenek Buntu Datu, dan sekarang Tongkonan ini dihuni oeh salasatu keluarga dari rumpun pemilik tongkonan ini yaitu seorang nenek yang bernama Nenek Toyang yang merupakan Turunan ke 10 dari tongkonan ini, umurnya diperkirakan sekitar 110 tahun.

Jumlah dari atap Tongkonan ini sekitar 1000 keping pahatan batu, dimana setiap pahatan batu memiliki ukuran 5 x 3 jengkal orang dewasa dengan berat 10 kg. Dengan struktur tongkonan ini yang hanya ditopang oleh 55 tiang yang seluruhnya terbuat dari kayu untuk menopang berat beban atap yang beratnya 10 ton membuat tongkonan ini memiliki keunikan tersendiri. tidak hanya itu, atap2 batu yang tersusun rapi ini hanya diikat oleh rotan, luar biasa bukan kekuatannya?

Menurut informasi pemilik tongkonan, selama berdirinya Tongkonan ini baru dua kali mengganti atap, penggantiannya tidak menyeluruh dn hanya dibeberapa titik saja untuk mengganti tali rotan yang sudah putus. Sangat sulit dipercaya namun itulah kenyataannya sebuah tongkonan yang berat atapnya 10 ton diidkat dengan tali rotan dan hanya ditopang oleh tiang kayu berjumlah 55 tiang masih mampu berdiri kokoh sampai sampai sekarang.

Lantai Tongkonan Papa Batu ini terbuat dari Papan yang dindingnya berukiran toraja yang masing-masing ukiran memiliki makna tersendiri dan tidak dan ukiran ini tidak sembarang digunakan di rumah tongkonan lain. selain itu tongkonan ini memilik 4 ruang, dan hanya ruang utama yang boleh dilihat itupun atas izin dari penghuni tongkonan ini yaitu Nenek Toyang.

Bangunan ini sangat disakralkan oleh pemilik Tongkonan, sehingga pengunjung yang ingin melihat bagian dalam dari Tongkonan ini harus mendapat izin dari penghuni Tongkonan, menurut cerita orang yang masuk tanpa izin atau didampingi oleh pemilik tongkonan akan jatuh sakit dan hanya satu obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini yaitu meminta maaf kembali kepada leluhur Tongkonan Papa Batu ini.

Masuk dalam ruangan Tongkonan Papa Batu ini, tidak hanya dengan minta izin dari pemilik Tongkonan ini namun ada ritual khusus yang harus dijalani. Sebelum naik di atas tongkonan, terlebuh dahulu penghuni akan naik ke atas untuk meminta izin dari leluhur tongkonan ini, setelah itu anda akan disuruh naik dan saat berada di depan pintu masuk tongkonan, pemilik tongkonan akan menyuruh anda untuk mengetok kepala anda sendiri sebanyak tiga kali. sangat unik bukan? berbeda dengan kebiasaan kita bertamu dimana pintu rumah yang akan diketok bukan kepala. Ritual ini harus dilakukan kalau tidak, saat anda kembali anda akan jatuh sakit dan obatnya hanya satu kembali ke Tongkonan ini dan meminta maaf kepada leluhur tongkonan.

Ada beberapa benda yang disakralkan dalam rumah tongkonan ini bentuknya seperti sesajen yang terdiri dari kulit pa'piong ( bekas bambu yang dibakar untuk memasak daging yang dicampur dengan sayurr-sayuran seperti mayana dll), padi, keranjang nasi tempo dulu, daun bambu dan  kepala kerbau yang masih utuh dengan tanduknya.

Salasatu bagian yang sangat disakralkan dalam tongkonan ini adalah tiang besar yang terdapat di tengah tongkonan, satu-satunya tiang yang paling besar yang menopang tongkonan ini. fungsi dari tiang ini dulunya digunakan sebagai tempat menambat kerbau yang akan dikurbankan jika  ada salasatu dari rumpun tongkonan yang meninggal yang akan diupacarakan. karena bagian ini sangat sakral dan dikeramatkan sehingga penghuni  atau keluarga dari tongkonan pun tidak sembarang  masuk dan menyentuh tiang ini.

Situs warisan budaya toraja ini tentunya memiliki cerita budaya masa lampau yang masih kental. Tongkonan yang berdiri 700 tahun yang lalu dengan atap batu dengan berat 10 ton yang hanya ditopang oleh tiang kayu sebanyak 55 mampu berdiri sampai sekarang, serta kesakralan dari tongkonan ini menjadikan tongkonan ini memiliki nilai histori yang sangat menarik untuk dikaji dan diteliti lebih jauh tentang sejarah dari Tongkonan Papa Batu ini.

Tentunya sebagai masyarakat Toraja sangat berharap Tongkonan ini bisa menjadi salasatu warisan dunia dan terdaftar dalam UNESCO untuk mendapat perlindungan dunia. Tentunya suatu kebanggaaan tersendiri bagi masyarakat indonesia khususnya Masyarakat Toraja jika situs warisan Budaya ini bisa masuk dakam salasatu warisan dunia yang perlu dijaga kelestariannya, jadi kapan ya?

Bagaimana? tertarik bukan mengunjungi tempat ini? Akses ke lokasi ini cukup mudah, anda bisa menggunakan roda dua atau roda empat untuk menjangkau tempat ini, jarak dari kota makale sekitar 10 km arah barat Tana Toraja.






You Might Also Like:

This Is The Newest Post
Disqus Comments