Kuburan Gua Alam Tampang Allo, Tempat Perjanjian Suami Isteri Sehidup Semati, Satu Kubur Kita Berdua

Tampang Allo adalah merupakan salasatu Lokasi objek wisata pekuburan gua alam yang terletak di lembang kaero kec. sangalla atau sekitar 9km dr pusat kota makale. Di dalam gua ini terdapat banyak erong erong dalam berbagai bentuk seperti kerbau babi,dan perahu.Tengkorak dan tulang belulang yang ada dalam gua tampang allo ini adalah korban dari fenomena ra'ba biang yang melanda toraja sekitar tahun 1918, Gua Tampang Allo ini merupakan salasatu gua tempat pekuburan massal saat itu.

Erong-erong dalam gua ini tersusun rapi menggantung di atas dinding gua bersama dengan tau-tau(patung) yang jenis dan susunannya berdasarkan strata atau status  sosial dari yang meninggal, selain itu terdapat juga banyak stalakmit yang selalu meneteskan air pada musim hujan.

Selain sebagai Tempat penguburan, ternyata Gua Tampang Allo juga ini memiliki sejarah atau cerita yang menarik, dimana Gua ini sebagai tempat terjadinya perjanjian yang diikat oleh sumpah dan janji sehidup semati, satu kubur kita berdua dari pasangan suami istri bernama RANGGA BULAAN DAN PUANG MENTURINO.

Konon Gua Tampang Allo ini ditetapkan oleh Puang Menturino dengan isterinya Rangga Bulaan sebagai tempat pemakaman mereka jika mereka meninggal dunia. Pada suatu ketika kampung Tangdan dilanda bencana oleh suatu penyakit yang menyebabkan semua penghuni kampung ini meninggal dunia,hanya satu penghuni kampung ini yang masih selamat yaitu seorang anak bangsawan yang masih kecil. suatu hari seekor kera masuk dalam kampung ini dan mendapati seorang anak kecil sedang menangis di atas rumah, diambilnyalah anak kecil itu dan si kera ini merawatnya sampai tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita,si gadis Cantik ini diberi nama Rangga Bulaaan.

Suatu hari Puang Menturino bersama dengan anak buahnya dari Kaero melakukan perburuan dan singgah beristirahat di sebuah sumur Dekat kampung Tangdan tidak jauh dari Rumah di mana si kera dan gadis cantik Rangga Bulaan tinggal. Seorang anak buah melihat keberadaan kera dan Rangga dan iapun bergegas melaporkannya kepada Puang Menturino. Kera pun tertawa dan bersuka-suka sambil berkata kepada anak buah Puang Menturino "Kalosingki mane la'pu' mane tantan sarumena" yang berarti gadis kami dalam pertumbuhan, masih perawan dan berparas ayu dan cantik.


Setelah anak buah menyampaikan ini kepada Puang Menturino, diutusnyalah kembali anak buah itu menyampaikan kepada Si Kera bahwa Puang Menturino akan datang bertamu ke rumahnya. si Kera pun memasak labu dan menghamburkannya di atas rumah untuk menghalangi Puang Manturino naik di atas rumah menemui Rangga Bulaan, saat Puang Menturino hendsk naik di atas rumah si Kera pun menghalangi dengan alasan Si Gadis cantik Rangga sedang sakit dan kotrannya berceceran di atas rumah dan bau. Puang Menturino tidak menhirauakan ucapan si Kera dan naik di atas rumah dan langsung merangkul si Rangga Bulaan, iapun menyampaikan isi hatinya untuk menjadikan Rangga Sebagai pendamping hidupnya, Rangga pun menerima niat baik dan lamaran dari Puang Menturino dengan syarat melakukan perjanjian dengan diikat oleh sumpah karena Rangga hidup sebatang kara tidak memiliki sanak saudara, kecuali kera yang mengasuhnya sampai tumbuh menjadi dewasa, Puang Menturino menerima permintaaan Rangga, maka pada saat itu terjadilah sumpah sehidup semati, satu kubur berdua.

Dalam rumah tangganya kedua pasangan suami isteri ini hidup rukun dan damai bersama dengan pengasuhnya si Kera, setelah beberapa lama hidup menjadi suami isteri, si kera meminta pamit untuk berangkat ke Barana' rombe menggantung, dimana si kera akan mengakhiri hidupnya karena sudah sampai ajalnya, Rangga dengan berat hati tidak rela mengizinkan si kera untuk berangkat, namun karena si kera ajalnya semakin dekat maka kera pun tetap berangkat.

Sebelum berangkat si kera berpesan bahwa setelah 7 hari Rangga bersama suaminya harus menyusul ke Barana' rombe untuk mempersembahkan hewan kurban kepada arwah dari si kera yakni seekor kerbau belang atu tedong bonga dan seekor babi yang berkuku belang. Rangga dan suaminya menepati janjinya, dan setelah 7 hari berangkatlah Rangga bersama suaminya Puang Menturino ke Barana' Rombe. Setelah melakukan kurban kerbau belang dan babi brkuku belang, maka dilihatnyalah di atas pohon barana' tergantung mayat si kera dan sudah menjadi emas. Dan terdengar pulahlah suara yang menyatakan bahwa ambillah mayat saya ini yang sudah menjadi emas dan jadikanlah sebagi benda pusaka, kenangan sebagai tanda kasihku kepadamu berdua bersama turunanmu, simpan, jaga dan rawatlah dengan baik. Masukkanlah ke dlam bakul(baka) yang berganengan dua yang disebut BAKA SIROE. Palang tangan dari BAKA SIROE ini berbentuk Gayang (keris Emas) bernama gayang INDO' KALEKE sampai sekarang masih ada di madandan bersama baka siroe'.


Setelah itu Rangga Bulaan meninggal lebih dulu dari suaminya Puang Menturino, mayatnya dimasukkan dalam erong dan diletakkan dalam gua Tampang Allo yang sudah disiapkan, waktu demi waktu Puang Menturinopun juga meninggal dunia kemuadian erongnya diletakkan di tempat pemakaman di LOSSO', tidak ditempatkan bersama dengan isterinya di gua tampang Allo. Pemakaman LOSSO" ini tidak jauh dari Pemakaman Gua Tampang Allo. Karena adanya perjanjian yang diikat dengan Sumpah sehidup semati sekubur berdua oleh Puang Menturino Dan Rangga Bulaan, sehingga ditemukan Erong Puang Menturino sudah kosong dan jenazahnya ditemukan berada bersatu dengan isterinya Rangga Bulaan dalam Gua Tampang Allo.

Demikianlah legenda atau cerita singkat dari Kisah Perjanjian yang diikat dengan sumpah Sehidup Semati, satu kubur berdua dari Puang Menturino Dan Rangga Bulaan

Sumber Artikel : W.P. SOMBOLINGGI'

You Might Also Like:

Disqus Comments