Legenda Puang Lakipadada Versi Gowa

Cerita atau legenda Puang Lakipadada terdiri dari beberapa versi, ada versi Toraja,versi Bantaeng dan versi Gowa

Yang akan diceritakan di sini adalah Legenda Puang Lakipadada versi Gowa.

Diriwayatkan, bahwa beberapa waktu lamanya gabungan raja-raja kecil itu memerintah, maka paccalaya dan sembilan raja-raja kecil anggotanya masygul, mereka menginginkan seorang raja sedangkan tidak ada dari kesembilan orang itu yang bersedia diangkat menjadi raja. Makaerwkapin bersama Paccalaya mengadalan perundingan yang jasilnya mereka berusaha samnil memohon kepada dewata agar diturunkan seorang wakilnya untuk diangkat menjadi seorang raja memerintah di kerajaan Gowa.



Pada suatu hari hujan turun dengan sangat derasnya, diiringi guntur sambung menyambung serta kilat sambar menyambar yang menyebabkan timbul beberapa kerusakan dan ketakutan pada rakyat Gowa. Setelah hujan berhenti, tersengarlah kabar bahwa di tempat yang bernama Taka' bassia ada seorang putri yang turun dari kayangan seorang diri yang sangat cantik parasnya.

Maka Paccalaya bersama kesembilan raja-raja kecil itu berangkat ke tempat tersebut dan benar mereka menemukan di tempat itu seorang perempuan yang cantik jelita memakai karaeng bayo bersama Puang Lakipadada. Menurut keterangan mereka itu berasal dari Tana Toraja dan singgaj di Bantaeng beberapa waktu lamanya.

Karaeng Bayo mempinyai sebilah kelewang diberi nama "Tanruballanga" dan Puang Lakopadada juga membawa sebuah kelewang bernama "Sudanga". Namun jasil penelitian sampai sekarang belum pernah menemukan peninggalan karaeng bayo di Gowa yanh ada adalah peninggalan Puang Lakipadada "Sudanga" yang sampai sekarang masih tersimpan di Istana Gowa. Sehingga ada beberapa pendapat yang menyatakan bahawa sesingguhnya karaeng bayo adalah Puang Lakipadada.

Ketika mereka bertemu berkatalah Paccalaya kepada Karaeng Bayo :" kami datang mempersuami-istrikan engkau dengan raja(ratu) kami. Maka jawab Karaeng Bayo:" sesangkan engkai si empinya negeri menurunkan kami ke dalam lubang yang dalam di tanah kami akan berdiam diri, apalagi engkai naikkan kami ke pincak pohon kelapa, sudah tentu itu sangat menggembirakan kami.

Beberapa haro lemudian dilangsungkan pernikahan agung antara Karaeng Tumanurunga ri Gowa dan Karaeng Bayo. Seluruh rakyat Gowa bergembira ria dan penuh syukur kepada dewata atas perkawinan yang diadakan menurut adat kerajaan Gowa. Sesudah upacara perkawinan agung itu, diadakan upacara pengucapan ikrar antara Tumanuranga san Karaeng Bayo di satu pihak dan Paccalaya serta Bate Salapanga di lain pihak.

Bunyi ikrar itu adalah sebagai berikut :

Karaeng Bayo: " kini kamu jadikan ki rajamu,kami akan bersabda dan engkau akan tunduk patuh. Kami ibarat angin dan engkai adalah daun kayu.Mendengar ucapan Karaeng Bayo yang mewakili istrinya, raja Gowa Tumanurunga, maka Paccalaya atas nama Kasuwi Salapanga yang  turut hadir menjawab.
  • Bahwasanya setelah kami angkat kamu menjadi raja kami, maka engkai adalah raja dan kamo adalah hambamu.
  • Engkau adalah tempat kami bergantung.
  • Jika kami tidak menepati janji kepada tuanku maka patik sekalian akan binasa.
  • Tuanku tidaknunuh kami dan kami tidak akan membunuh tuanku.
  • Hanya dewata yang membunuh kami dan  envkaupin hanya dewata yang membunuhmu.
  • Bersabdalah engkau dan kami tunduk patuh,kalau kami menjunjung maka k Kami tidak memikul,kalau kami memikil maka kami tidak menjunjung,yang artinya segalah titah raja akan dijunjung tinggi,akan tetapi jika perintah raja tidak adil maka, perintah itu tidak akan dijalankan oleh Kasuwiyang Salapanga.
  • Raja tidak boleh berbuay sesuka hati terhadap rakyat,melainkan hanya yang bersalah saja yang harus dihukum.
  • Engkau adalah air dan dan kami adalah batang kayu yang hanyut, akan tetapi hanya air pasang yang menghayutkan. Maksudnya raja berkuasa dalam batasan-batas yang patut terhadap rakyat akan tetapi di dalam hal yang penting saja seperti negeri dalam bahaya peperangan, rakyat berkewajiban membela negara.
  • Walauoun anak dan isteri kami kali merwka bersalah, kami relakan dihukum atas kesalahannya.
  • Bahwasanya kini kami mempertuan engkau, hanya diri pribadi kami mempeetuan engkau, harta benda kami tidak.
  • Engkau tidak akan mengambil ayam kami dalam pekarangan kami, tidak mengambil kelapa kami sebutirpun.  Dan tidak akan mengambil pinang kami walaupun hanya setandan.
  • Jika engkai mengingini barang milik kami, engkau membeli yang patut dibeli, engkai menggantinya yang patut diganti, engkau memintanya yang patut dipinta, dan kami akan memberikannya kepada engkau tidak boleh mengambil milik kami begitu saja.
  • Raja tidak akan memutuskan hal ihwal begitu saja dalam negeri kami jika gallarang tidak hadir dan gallarang tidakengambil keputuaan tentang perang joka raja tidak ada

Sesudah itu Tumanuranga bersama suaminya ( karaeng Bayo), menerima baik ikrar tersebut, yang mendampingi Tumanuranga(raja) melaksanakan tugas sehari-hari kemudian diangkat adalah:
  • Tummabicara Butta( semacam mangku bumi atau perdana menteri).
  • Tu-mailalang Towa( semacam menteri negara yang bertugas mengatur hubungan antar raja dengan bate salapanga.
  • Tu-mailalang Lolo( semacam menteri negara yang menyalurkan kehendak rakyat kepada raja Gowa).
  • Tu-makkajannangan( semacam menteri negara yang mengatur kekuasaan dalam negeri).
  • Pati Matarang(semacam menteri negara yang mengatur urusan pertahanan dan keamanan).
Fungsi Paccalaya dihapus dan baru pada waktu NIT (947)  diangkat lagi paccal ri Gowa. Sebab itu dalam sejarah kerajaan Gowa hanya ada dua orang Paccala. Pertama swbelum ada tomanurung dan kedua di saman negara Indonesia Timur.

Adapun Bate Salapanga yang berfungsi sebagai dewan kerajaan Gowa setelah datangnya Tumanuranga terdiri atas :
  1. Gallarang Mangngasa
  2. Gallarang Tombolo'
  3. Gallarang Saomata
  4. Gallarang Bontomanai
  5. Gallarang Paccelekang
  6. Karaeng Pattalasang
  7. Karaeng Bori'sallo
  8. Karaeng Manuju
  9. Karaeng Sudiang
Para anggota Bate Salapanga ini merangkap pula sebagai raja kerajaan bawahan dengan gelar " Daengta". Para menteri negara dan perdana menteri digelar " karaengta". Sesangkan raja Gowa yang disebut pula " sombanta ri Gowa" oleh seluruh rakyat Gowa menyebutnya "Sombanta"

Demikianlah cerita atau legenda Puang Lakipadada versi Gowa, semoga bermamfaat.

You Might Also Like:

Disqus Comments