Prosesi Adat Ma'pasonglo' Pada Acara Pemakaman Almh. Yohana Randa Di Leatung Sangalla' Utara

Tana Toraja sangat terkenal dengan keunikan budayanya,dan salasatu yang sangat unik dan menarik adalah prosesi ma'pasonglo' pada upacara pemakaman rambu solo' atau upacara kedukaan. Dari upacara rambu solo' ini kita bisa tahu dan saksikan bahwa masyarakat toraja sangat menghormati leluhurnya.



Pada acara rambu solo' ini ada prosesi adat yang namanya ma'pasonglo', namun prosesi ma'pasonglo hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu dan acara ini memakan biaya yang tidak sedikit. Prosesi ini memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk melaksanakan adat ini.

Prosesi ma'pasonglo sendiri adalah proses mengusung jenasah keliling kampung,dimana jenasah diusung oleh masyarakat  dengan menggunakan saringan( tempat khusus untuk orang mati yang menyerupai rumah tongkonan/rumah adat toraja).



Sehari sebelum prosesi ini,jenasah terlebih dahulu ditempatkan dilumbung selama 1 malam yang disebut ma'pellao alang.Dalam Arak-arakan ma'pasonglo ini sudah diatur barisan barisan yang rapi yang didahului dengan tibang(berbentuk segitiga yang dihiasi dengan aksesoris toraja seperti gayang,maag,parang toraja dll) kemudian barisan orang yang membawa bendera yang disebut tombi,selanjutnya barisan kerbau yang akan dipotong pada pemakaman tersebut kemudian menyusul barisan keluarga yang berada dalam bentangan kain merah yang diikatkan pada keranda jenasah dan dan yang hanya boleh masuk dalam kain merah ini hanyalah wanita,laki-laki tidak boleh diperbolehkan masuk dalam barisan ini.



Seperti pada pemakaman Almh. Yohana Randa (nenek baran), ibunda dari Pdt. Daud Palisu Sumbung, prosesi ma'pasonglo ini dilaksanakan bertempat di Tongkonan benteng Lepong, Kel.Leatung, kec. Sangalla Utara.



Prosesi ini berlangsung dengan sangat meriah dan antusias masyarakat yang tinggi sebagai tanda bahwa masyarakat sangat menyanyangi almarhumah dan juga sebagai bentuk penghormatan terakhir masyarakat kepada almarhumah. Upacara ini didahului dengan ibadah yang dipimpin oleh  bapak pdt. Musa Salusu dari Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja.



Setelah ibadah selesai proses ma'pasonglo dimulai, didahului dengan ma' badong sebagai pengantar sebelum jenasah diturunkan dari lumbung dan ditempatkan di atas saringan. Setelah itu jenasahpun diusung keliling kampung dengan rute yang terbilang agak jauh



Namun semangat keluarga dan masyarakat tak pernah padam walaupun berkeliling dengan jalan kaki di bawah terik matahari, ini adalah bukti bahwa keluarga dan masayarakat begitu sayang pada alamarhumah.

rute ma'pasonglo dimulai dari rumah tongkonan tempat acara pemakaman berlangsung menuju ke kampung kalolu berputar ke pasar baru sangalla kemudian kembali ke tempat upacara pemakaman berlangsung.



Dalam perjalanan ma' pasonglo ini teriakan kumalasi(teriakan khas masyarakat toraja) sahut menyahut diselingi dengan lagu tarian ma'badong dan tak luput pula lagu-lagu rohani penghiburan dinyanyikan. dan yang sangat menarik juga  dimana dalam rombongan prosesi ma' pasonglo ini turut serta dua anak kecil kembar bule yang tak mengenal lelah dan bahkan kelihatan asyik mengikuti acara ma' pasonglo' ini sampai kembali ke tempat upacara pemakaman.



Sesampainya di pelataran duka,jenasah diturunkan dari saringan kemudian dinaikkan ke tempat khusus yang tinggi yang dinamakan Lakkian,dan jenasah ini ditempatkan selama beberapa hari sampai pada acara terakhir yaitu penguburan. dan kadang pula acara ini diselingi dengan acara sisemba',berkelahi dengan hanya menggunakan kaki oleh ibu-ibu tanpa ada rasa marah atau dendam karena ini hanyalah sebuah prosesi.



Prosesi Ma'pasonglo pada pemakaman Almarhumah Yohana Randa(nenek Baran) disaksikan pula ratusan wiatawan mancanegara yang setia menanti prosesi ini sampai sore,para wisatawan asing bahkan mendominasi halaman pelataran duka untuk menyaksikan dan mendokumentasikan prosesi ma'pasonglo',



Ini adalah bukti bahwa budaya atau adat kita masyarakat toraja begitu unik dan menarik,tak ada duanya di dunia,oleh karena itu mari generasi muda kita memelihara serta menjaga adat dan buadaya kita sehingga tetap terpelihara kelestariannya. Budaya kita adalah warisan dunia.

You Might Also Like:

Disqus Comments